HeadlineNasional

Dampak Fatwa MUI, Pengusaha Sound Horeg di Jombang Pusing, Jelang Agustus Sepi Job

×

Dampak Fatwa MUI, Pengusaha Sound Horeg di Jombang Pusing, Jelang Agustus Sepi Job

Sebarkan artikel ini

JOMBANG, JOINMedia.id – Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengeluarkan fatwa haram terhadap aktivitas sound horeg—pertunjukan hiburan jalanan dengan pengeras suara berdaya tinggi—membuat para pengusaha sound horeg di Kabupaten Jombang merasa terpukul.

Kesedihan mereka kian bertambah setelah pihak kepolisian di Jombang juga mengeluarkan larangan menggelar pertunjukan sound horeg di ruang publik.

Larangan berlapis ini membuat harapan para pengusaha soud horeg di Jombang untuk mendapatkan penghasilan di momen perayaan kemerdekaan bulan Agustus mendatang menjadi sirna.

Lutfi Rosadi, salah seorang pengusaha sound horeg di Jombang, mengaku bahwa akhir Juli hingga Agustus biasanya merupakan masa panen job bagi pelaku usaha seperti dirinya.

Dalam rangkaian acara menyambut HUT ke-79 Republik Indonesia, permintaan untuk pertunjukan sound horeg biasanya meningkat drastis.

“Biasanya kami kewalahan menerima job di bulan Agustus. Tapi sekarang, semua itu tinggal kenangan,” keluh Lutfi.

Ia menduga, sepinya permintaan tahun ini tak lepas dari fatwa MUI yang menyatakan sound horeg haram, serta adanya larangan dari pihak kepolisian.

“Sekarang, jumlah job yang datang bisa dihitung dengan jari,” ungkap Lutfi dengan wajah sedih.

Menurut Lutfi, sound horeg hanyalah sebuah hiburan berbasis audio yang menggunakan pengeras suara. Jika dianggap terlalu keras atau mengganggu, seharusnya bisa diatur oleh pemerintah, bukan serta-merta melarangnya.

“Kalau masalah suara terlalu keras, bukankah bisa dibatasi volumenya atau ditentukan waktu operasionalnya? Kami siap diatur, asal jangan dilarang total,” ujarnya.

Terkait aksi joget-joget yang kerap mengiringi pertunjukan sound horeg, Lutfi menegaskan bahwa hal tersebut merupakan acara dari panitia atau penyelenggara acara yang mengundangnya, bukan bagian dari tanggung jawab operator sound.

Lutfi berharap pemerintah bisa bersikap lebih bijak dan mempertimbangkan nasib para pengusaha sound horeg yang menggantungkan hidupnya dari bisnis tersebut.

“Ini bukan hanya soal hiburan, tapi soal perut. Kami punya keluarga yang harus kami nafkahi,” tutup Lutfi kepada JOINMedia.id yang menemuinya di Jombang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *