JOMBANG, JOINMedia.id – Sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang diprediksi akan kembali mengalami krisis air bersih pada musim kemarau mendatang.
Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Wiku F Diaz, Plt Kepala BPBD Jombang, Jumat (1/8/25).
Kepada JOINMedia.id, Wiku menjelaskan, dari seluruh kecamatan se Jombang saat ini memang masih belum ada yang melapor terjadinya krisis air bersih, namun menurutnya, potensi itu sudah mulai terlihat.
Berdasarkan analisis data, menurut Wiku, saat ini ada tiga kecamatan di Jombang yang berpotensi mengalami kekeringan.
Diantaranya adalah Kecamatan Plandaan, Kecamatan Bareng, dan Kecamatan Kabuh.
“Status yang ditetapkan saat ini adalah siaga darurat, belum masuk ke tahap tanggap darurat. Sampai hari ini (kemarin) belum ada laporan kejadian yang masuk,” ungkap Wiku.
Penetapan status siaga darurat ini dilakukan BPBD Jombang berdasarkan analisis data kekeringan selama empat tahun terakhir, dari 2021 hingga 2024, serta kajian risiko bencana.
Di tiga kecamatan tersebut, menurut Wiku kekeringan berpotensi menyebar di beberapa desa, antara lain Desa Banjaragung Kecamatan Bareng, Desa Jiporapah dan Desa Klitih di Kecamatan Plandaan, serta Desa Marmoyo dan Desa Manduro di Kecamatan Kabuh.
Meski status yang diberikan adalah status siaga, BPBD Jombang menegaskan bahwa yang dihadapi saat ini adalah potensi kekeringan, bukan prediksi pasti.
“Kami lebih memilih menggunakan dasar potensi agar masyarakat tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan,” jelas Wiku.
Selain kekeringan, BPBD juga mengantisipasi potensi kebakaran hutan, lahan, dan permukiman.
Pada tahun 2024, BPBD Jombang mencatat sedikitnya 148 kasus kebakaran yang melanda permukiman dan fasilitas umum.
Namun, BPBD Jombang berharap dampak kekeringan dapat diminimalisir berkat adanya intervensi program Pamsimas dari Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang yang dijalankan tahun 2024 lalu.***













