JOMBANG, JOINMedia.id – Gelaran konser musik berskala besar yang berlangsung di Stadion Jombang Sabtu (19/7/25) malam kemarin ternyata merugikan pedagang.
Pasalnya sejak beberapa hari sebelum konser tersebut digelar, panitia melarang para pedagang berjualan di sekitar stadion Jombang.
Padahal berjualan di stadion Jombang sudah menjadi mata pencaharian pata pedagang.
Oleh panitia konser yang bertajuk Dialog Cinta Festival Vol 3 yang menghadirkan deretan musisi papan atas seperti Dewa 19, NDX AKA, Nidji, Vierratale, Dere, dan Hadad Alwi ini, puluhan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar stadion diminta menutup usahanya selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, 19-20 Juli 2025.
Kebijakan penutupan aktivitas PKL yang diberlakukan oleh pihak penyelenggara dinilai memberatkan dan merugikan para pedagang yang selama ini menggantungkan hidupnya di kawasan stadion. Setidaknya, 40 pedagang yang tergabung dalam Serikat Pedagang Kaki Lima (Spekal) Jombang harus menghentikan aktivitas jualan mereka selama acara berlangsung.
“Disuruh tutup selama kurang lebih dua hari, uang ganti (kompensasi) Rp6,5 juta untuk 40 lapak yang tergabung dalam paguyuban. Mereka ini pedagang resmi, berkontribusi kepada pemerintah melalui dinas pasar, kok malah disuruh tutup,” ungkap Ketua Spekal Jombang, Joko Fattah Rokhim, kepada JOINMedia.id, Minggu (29/7/2025).
Fatah menilai, nilai kompensasi yang dijanjikan panitia tidak sebanding dengan potensi penghasilan yang bisa diraih para pedagang saat ada acara besar seperti konser ini. Biasanya, momen semacam ini justru menjadi ladang rezeki bagi PKL karena tingginya jumlah pengunjung.
Menanggapi hal ini, Kartiyono, politisi dari Fraksi PKB DPRD Jombang juga turut angkat bicara. Ia menyayangkan kurangnya perencanaan dari pihak penyelenggara, khususnya dalam penataan pedagang di area stadion yang selama ini menjadi lokasi usaha.
“Konser sebesar ini seharusnya menjadi berkah bagi warga sekitar, termasuk pedagang kaki lima dan tukang parkir. Kalau mereka dilarang berjualan, ya harus ada solusi. Bisa diberi zona khusus atau relokasi yang tidak merugikan mereka,” tegasnya.
Ia menambahkan, dengan jumlah penonton yang mencapai sekitar 10 ribu orang, pengaturan dan antisipasi terhadap kerumunan memang penting. Namun, langkah itu seharusnya tidak serta-merta mematikan sumber penghidupan masyarakat kecil.
“Misalnya mereka yang selama ini berjualan di situ tidak dibolehkan, ya harus ada solusi. Contohnya di tempat semula maupun dipindahkan kan beda rezeki. Atau diberikan garis area PKL yang tertib,” tambahnya.
Konser Dialog Cinta Festival Vol 3 sendiri disambut antusias oleh warga Jombang dan sekitarnya. Namun di balik kemeriahan panggung, keluhan para PKL menjadi catatan penting bagi pelaksanaan event serupa di masa mendatang.
Warga di Jombang berharap, penyelenggaraan acara besar dapat tetap memberi dampak positif secara merata, tidak hanya bagi panitia dan pengunjung, tapi juga bagi pelaku ekonomi kecil di sekitar lokasi.***













