SURABAYA, JOINMedia.id – Bagi para pecinta tanaman hias di Surabaya, nama pasar bunga Bratang tentu sudah tidak asing lagi.
Pasar yang terletak di jalan Bratang Binangun kota Surabaya itu memang dikenal sebagai pasar khusus yang menjual aneka bunga dan tanaman hias.
Sudah bertahun-tahun, pasar bunga Bratang menjadi magnet dan solusi bagi warga Surabaya yang membutuhkan tanaman hias.
“Di sini penjualnya banyak, jumlah lapaknya saja ada dua ratus. Dan jenis bunga yang dijual di setiap lapak itu ada ratusan jenis”, ujar Dahlan (53), salah satu pedagang di pasar bunga Bratang.
“Jadi masyarakat kalau datang ke sini nyari bunga apa saja insyaallah ada”, tambah Dahlan.
Dahlan, yang kini juga dipercaya menjadi ketua Paguyupan Pedagang Bunga Bratang menjelaskan, pasar bunga Bratang sudah berdiri sejak tahun 1980 an.
Namun sebelum pasar berdiri, sebagian warga konon sudah ada yang berjualan bunga di lokasi tersebut sejak tahun 1950an.
Karena semakin lama jumlah pedagangnya semakin banyak, area ini kemudian dikenal oleh masyarakat Surabaya sebagai pasar bunga Bratang.
PENATAAN PASAR
Meski dikenal sebagai sentra penjual bunga, namun tak disangka, kawasan pasar bunga Bratang dulu ternyata merupakan tempat yang sangat sepi.
Hal itu terjadi lantaran lokasi pasar bunga Bratang berada, dulunya adalah tempat pembuangan sampah.
Setiap melewati kawasan pasar bunga Bratang, masyarakat dulu selalu menutup hidung karena mencium aroma tak sedap.
Hingga beberapa tahun kemudian, Pemkot Surabaya melalui Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya, kemudian melakukan penataan.
Area pasar bunga yang dulu kotor dan bau ditata sedemikian rupa sehingga menjadi bersih dan cantik.
Untuk mendukung usaha Pemerintah dan pedagang, Bank Rakyat Indonesia (BRI) kemudian hadir dengan menyediakan gazebo di beberapa titik di dalam pasar.
Hal itu dilakukan untuk membuat pengunjung yang datang ke pasar bunga Bratang merasa nyaman.
Saat lelah berjalan-jalan memilih bunga, mereka bisa beristirahat di gazebo sambil menikmati udara sejuk di tengah-tengah hamparan bunga dan tanaman hias yang dijajakan pedagang.

Selain itu, BRI juga membangun sumur untuk membantu memenuhi kebutuhan air pedagang dan pengunjung.
Bagi pedagang, air sangat dibutuhkan untuk menyiram tanamannya setiap hari. Sedangkan bagi pengunjung, air juga dibutuhkan untuk toilet dan cuci tangan.
BRI juga menyediakan wastafel di beberapa titik. Sehingga tangannya kotor usai memilih bunga, pengunjung bisa langsung mencuci tangannya hingga bersih.
KEHADIRAN BRI DI PASAR BUNGA BRATANG
Masuknya BRI dengan menyediakan berbagai fasilitas penting disambut gembira oleh para pedagang di pasar bunga Bratang.
Apalagi, kedatangan BRI tak hanya menyediakan fasilitas yang memanjakan pengunjung, tapi juga membantu pedagang di bidang permodalan.
Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Diah Oktaviah (24), salah satu pedagang tanaman hias lainnya di pasar bunga Bratang.
Menurut Diah, ia sudah berjualan bunga sejak lama. Bahkan dari keluarganya, Diah merupakan generasi ketiga yang melanjutkan usaha berjualan tanaman hias di pasar bunga Bratang.
Diah merasa sangat senang karena usaha penjualan bunga miliknya sekarang telah berkembang pesat.
Bahkan lapak bunga yang dimiliki Diah di pasar bunga Bratang saat ini tidak hanya satu, tapi telah berkembang menjadi lima lapak.
“Sekarang lapak saya sudah ada lima mas, Alhamdulillah”, ungkap Diah.
Meski demikian, sarjana Psikologi Unair ini tak mau menghabiskan waktunya menunggu lapak di pasar.
Ia memilih mengembangkan usahanya dengan melayani jasa pembuatan taman, service taman, dekorasi, rental bunga, dan masih banyak lagi.

Untuk menjalankan usaha barunya itu, Diah mengaku sering membutuhkan dana besar dalam waktu cepat.
Seperti saat mendapat proyek membuat taman misalnya, kebanyakan pemesan akan membayar setelah taman jadi.
Sehingga untuk membuat taman tersebut, Diah harus mengajukan pinjaman modal ke BRI dan nanti akan ia bayar setelah pemesan taman melakukan pembayaran.
“Alhamdulillah dengan BRI itu mudah dan cepat mas, kita ajukan pinjaman sampai 100 juta itu sehari bisa selesai”, ucap Diah sambil tersenyum senang.
Hal senada juga diungkapkan oleh Edi Urbayanto (58), salah satu pedagang di pasar bunga Bratang lainnya.
Karena membutuhkan modal, bulan Januari lalu Edi mengaku mengajukan pinjaman ke BRI sebesar 25 juta rupiah.
Tanpa melalui proses yang ribet, Edi mendapatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari BRI senilai yang diajukan.
“Alhamdulillah saya dapat 25 juta, tahun ini, ya bulan kemarin ini, saya pakai kulakan (belanja) nambah koleksi di lapak biar pembeli kalau mau milih-milih itu seneng, koleksi bunganya lengkap”, ujar Edi Urbayanto.

Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Kepala Kantor Unit BRI Bratang, Girindra Ardiyan, membenarkan adanya program BRI di pasar bunga Bratang.
Menurutnya, BRI telah masuk dan membantu para pedagang di pasar legendaris itu sejak tahun 2023.
Selain sarana dan prasarana (BRIncubator), BRI juga memberikan support berupa pinjaman modal kerja (KUR/Kupedes), pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai penjualan secara online dan pembayaran secara cashless dengan support rekening simpanan dari BRI.
Hasilnya, dari total 52 pedagang di pasar bunga Bratang, saat ini sudah ada 35 pedagang yang menjadi debitur BRI, dengan nilai pinjaman yang telah dikeluarkan sebesar 1,4 milliar rupiah.
Bentuk pinjaman mereka bermacam-macam, mulai dari KUR, Kupedes, Kupra dan Kece.
Kedepan, menurut Girindra, BRI akan terus bersinergi dengan pedagang untuk membantu agar pasar bunga Bratang tidak hanya dikenal di pasar lokal JawaTimur saja, tapi juga lebih luas lagi.
“Harapannya untuk bantuan sarana dan prasarana yang telah diberikan BRI dapat bermanfaat untuk pedagang maupun untuk pembeli di pasar Bunga Bratang, lebih mengandalkan BRI baik dari segi transaksi cashless (QRIS), penyimpanan dana (tabungan/deposito), memaksimalkan transaksi penjualan online (Localoka), mempercayakan kebutuhan tambahan modal kerja/pinjaman, serta transaksi keuangan lainnya”, pungkas Girindra.***