<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah &amp; Budaya- Join Media</title>
	<atom:link href="https://joinmedia.id/category/sejarah-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://joinmedia.id/category/sejarah-budaya/</link>
	<description>Situs Berita Online</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jul 2025 10:45:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-favicon-join-media-1-80x80.png</url>
	<title>Sejarah &amp; Budaya- Join Media</title>
	<link>https://joinmedia.id/category/sejarah-budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gali Makam, Warga di Ngoro Jombang Temukan Sumur Kuno Diduga Peninggalan Era Majapahit</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/07/gali-makam-warga-di-ngoro-jombang-temukan-sumur-kuno-diduga-peninggalan-era-majapahit/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/07/gali-makam-warga-di-ngoro-jombang-temukan-sumur-kuno-diduga-peninggalan-era-majapahit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 10:45:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=4457</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Warga di Jombang kembali dihebohkan dengan...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/07/gali-makam-warga-di-ngoro-jombang-temukan-sumur-kuno-diduga-peninggalan-era-majapahit/">Gali Makam, Warga di Ngoro Jombang Temukan Sumur Kuno Diduga Peninggalan Era Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; </strong>Warga di Jombang kembali dihebohkan dengan ditemukannya sumur kuno, Senin (28/7/25).</p>
<p>Lokasinya di Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang.</p>
<p>Penemuan tersebut sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, namun hingga kini belum ditindaklanjuti.</p>
<p>Sokik, salah seorang warga yang menemukan sumur kuno itu menjelaskan, awalnya ia sedang bekerja menggali makam untuk warga Desa Kesamben yang baru meninggal dunia.</p>
<p>Namun saat menggali pada kedalaman 1,5 meter, Sokik dan teman-temannya melihat ada benda keras melingkar di dasar tanah.</p>
<p>Karena penasaran, Sokik melanjutkan penggaliannya hingga akhirnya terungkap bahwa benda yang ditemukan itu adalah sumur kuno yang tepiannya terbuat dari bahan tanah liat yang dibakar (jobong).</p>
<p>Agar kotak galinya dapat segera dipakai untuk mengubur jenazah, Sokik berinisiatif membongkar dan mengangkat dua lapis jobong tersebut ke atas sebagai barang bukti.</p>
<p>Sementara lapis bawahnya yang belum diketahui jumlahnya dikubur lagi dibawah jenazah yang dimakamkan.</p>
<p>“Kira-kira ke bawah itu masih ada lima lapis, tapi galiannya ini kan sudah dalam jadi saya ndak berani melanjutkan,” ujar Sokik.</p>
<p>Selain sumur kuno, sebelumnya di area makam umum Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang ini juga pernah ditemukan lampu kuno.</p>
<p>Lampu kuno itu juga ditemukan warga saat menggali makam.</p>
<p>Temuan-temuan ini, tentu saja makin menguatkan dugaan bahwa pada masa Majapahit, area Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Jombang merupakan pemukiman besar (bangsawan).</p>
<p>Dugaan tersebut diperkuat dengan banyaknya serpihan gerabah dan keramik kuno yang menghampar di seluruh area makam.</p>
<p>Atas temuannya tersebut, warga berharap Pemerintah melalui Dinas terkait segera melakukan penelitian untuk mengungkap misteri sejarah di balik benda-benda kuno yang sering mereka temukan.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/07/gali-makam-warga-di-ngoro-jombang-temukan-sumur-kuno-diduga-peninggalan-era-majapahit/">Gali Makam, Warga di Ngoro Jombang Temukan Sumur Kuno Diduga Peninggalan Era Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/07/gali-makam-warga-di-ngoro-jombang-temukan-sumur-kuno-diduga-peninggalan-era-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Masyarakat Jaman Majapahit</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/03/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit-2/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/03/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2025 08:04:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3993</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Pada masa awal Kerajaan Majapahit...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/03/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit-2/">Kehidupan Masyarakat Jaman Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id</strong> &#8211; Pada masa awal Kerajaan Majapahit (sekitar akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-14), kehidupan masyarakatnya dipengaruhi oleh berbagai aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya.</p>
<p>Berikut adalah gambaran umum kehidupan masyarakat pada awal masa Majapahit:</p>
<p>1. Struktur Sosial</p>
<p>&#8211; Masyarakat Majapahit terbagi dalam sistem hierarki sosial yang cukup kompleks. Raja berada di puncak kekuasaan, diikuti oleh bangsawan, pejabat kerajaan, dan para brahmana (pemuka agama).</p>
<p>&#8211; Di bawahnya, terdapat rakyat biasa yang terdiri dari petani, pedagang, dan pengrajin. Sistem kasta (varna) dari Hindu juga memengaruhi struktur sosial, meskipun tidak seketat di India.</p>
<p>&#8211; Masyarakat desa (wanua) memiliki otonomi tertentu dalam mengatur urusan lokal, dengan kepala desa sebagai pemimpinnya.</p>
<p>2. Ekonomi</p>
<p>&#8211; Pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Majapahit. Masyarakat menanam padi, sayuran, dan buah-buahan. Sistem irigasi yang baik, seperti pembangunan bendungan dan saluran air, mendukung produktivitas pertanian.</p>
<p>&#8211; Perdagangan juga berkembang pesat, terutama di pelabuhan-pelabuhan seperti Tuban dan Gresik. Majapahit menjalin hubungan dagang dengan wilayah Nusantara lainnya, serta dengan negara-negara asing seperti China, India, dan Arab.</p>
<p>&#8211; Mata uang logam (koin) digunakan dalam transaksi ekonomi, meskipun sistem barter masih umum dilakukan.</p>
<p>3. Agama dan Kepercayaan</p>
<p>&#8211; Agama Hindu dan Buddha berkembang secara harmonis di Majapahit. Raja-raja Majapahit sering kali menganut salah satu agama ini, tetapi toleransi beragama sangat dijunjung tinggi.</p>
<p>&#8211; Kepercayaan lokal dan animisme juga masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat, terutama di pedesaan.</p>
<p>&#8211; Candi-candi seperti Candi Penataran dan Candi Sukuh menjadi bukti keagungan kehidupan spiritual pada masa itu.</p>
<p>4. Budaya dan Seni</p>
<p>&#8211; Seni sastra berkembang pesat, dengan karya-karya seperti Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Sutasoma karya Mpu Tantular. Karya sastra ini tidak hanya mencerminkan kehidupan kerajaan tetapi juga nilai-nilai spiritual dan moral.</p>
<p>&#8211; Seni arsitektur dan patung mencapai puncaknya, dengan pembangunan candi-candi megah dan patung-patung dewa-dewi.</p>
<p>&#8211; Pertunjukan wayang dan musik tradisional menjadi hiburan rakyat yang populer.</p>
<p>5. Politik dan Pemerintahan</p>
<p>&#8211; Majapahit merupakan kerajaan yang kuat dengan sistem pemerintahan yang terorganisir. Raja memegang kekuasaan tertinggi, dibantu oleh pejabat tinggi seperti patih (perdana menteri) dan para bupati.</p>
<p>&#8211; Sistem upeti dan loyalitas dari daerah-daerah bawahan (mandala) menjadi dasar kekuatan politik Majapahit.</p>
<p>&#8211; Ekspansi wilayah dilakukan melalui penaklukan dan diplomasi, menjadikan Majapahit sebagai kerajaan terbesar di Nusantara pada masanya.</p>
<p>6. Kehidupan Sehari-hari</p>
<p>&#8211; Masyarakat biasa hidup sederhana, dengan rumah-rumah berbahan kayu dan bambu. Mereka bekerja sebagai petani, nelayan, atau pengrajin.</p>
<p>&#8211; Pakaian sehari-hari terbuat dari kain sederhana, sementara bangsawan mengenakan pakaian yang lebih mewah dengan perhiasan.</p>
<p>&#8211; Makanan pokok adalah nasi, dengan lauk pauk seperti ikan, sayuran, dan daging.</p>
<p>7. Pengaruh Luar</p>
<p>&#8211; Majapahit terbuka terhadap pengaruh budaya asing, terutama dari India dan China. Hal ini terlihat dalam seni, arsitektur, dan sistem kepercayaan.</p>
<p>&#8211; Hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara juga memperkaya kehidupan masyarakat Majapahit.</p>
<p>Secara keseluruhan, kehidupan masyarakat Majapahit pada masa awal mencerminkan kemajuan dalam berbagai bidang, dengan perpaduan harmonis antara tradisi lokal dan pengaruh asing.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/03/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit-2/">Kehidupan Masyarakat Jaman Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/03/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahasa Yang Dipergunakan Pada Masa Majapahit</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/02/bahasa-yang-dipergunakan-pada-masa-majapahit/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/02/bahasa-yang-dipergunakan-pada-masa-majapahit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Feb 2025 13:31:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3955</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Majapahit menjadi kerajaan terbesar yang pernah...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/bahasa-yang-dipergunakan-pada-masa-majapahit/">Bahasa Yang Dipergunakan Pada Masa Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Majapahit menjadi kerajaan terbesar yang pernah berkuasa di nusantara.</p>
<p>Masa Majapahit berlangsung selama dua abad, yakni mulai abad ke-13 hingga ke-16 masehi.</p>
<p>Berdasarkan literatur, ada dua bahasa yang dipergunakan pada jaman Majapahit.</p>
<p>Diantaranya adalah bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta.</p>
<p>1. Bahasa Jawa Kuno (Kawi):</p>
<p>Bahasa ini merupakan bahasa utama yang digunakan dalam karya sastra, prasasti, dan dokumen resmi Kerajaan Majapahit. Contohnya adalah kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca.</p>
<p>Kitab Negarakertagama ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno (Kawi).Bahasa Jawa Kuno juga digunakan dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di berbagai wilayah kekuasaan Majapahit.</p>
<p>2. Bahasa Sansekerta:</p>
<p>Bahasa ini sering digunakan dalam konteks keagamaan, ritual, dan sastra yang bersifat religius atau filosofis.</p>
<p>Sansekerta adalah bahasa yang dianggap sakral dan banyak digunakan dalam teks-teks keagamaan Hindu dan Buddha, yang juga berpengaruh besar di Majapahit.</p>
<p>Selain itu, ada juga pengaruh dari Bahasa Melayu Kuno dalam beberapa naskah, terutama yang berkaitan dengan perdagangan dan hubungan diplomatik dengan wilayah lain di Nusantara.</p>
<p>Naskah-naskah dari jaman Majapahit banyak yang berbentuk kakawin (puisi), kidung (nyanyian), dan prasasti yang ditulis di atas batu atau lempengan logam.</p>
<p>Bahasa yang digunakan pada masa Majapahit mencerminkan perpaduan antara budaya lokal Jawa dan pengaruh India, terutama melalui agama Hindu dan Buddha.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/bahasa-yang-dipergunakan-pada-masa-majapahit/">Bahasa Yang Dipergunakan Pada Masa Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/02/bahasa-yang-dipergunakan-pada-masa-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sambut Ramadhan 1446 H, SMP Negeri 4 Jombang Gelar Kirab Kue Apem</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/02/sambut-ramadhan-1446-h-smp-negeri-4-jombang-gelar-kirab-kue-apem/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/02/sambut-ramadhan-1446-h-smp-negeri-4-jombang-gelar-kirab-kue-apem/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Feb 2025 22:40:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 4 Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3946</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Menyambut bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah,...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/sambut-ramadhan-1446-h-smp-negeri-4-jombang-gelar-kirab-kue-apem/">Sambut Ramadhan 1446 H, SMP Negeri 4 Jombang Gelar Kirab Kue Apem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Menyambut bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah, SMP Negeri 4 Jombang menggelar tradisi kirab apem, Selasa (25/2/25).</p>
<p>Kirab Apem SMP Negeri 4 Jombang itu diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf sekolah.</p>
<p>Kirab Apem SMP Negeri 4 Jombang digelar sebagai bentuk syukur dan persiapan menyambut bulan penuh berkah tersebut.</p>
<p>Kirab apem dimulai pukul 08.00 WIB dari halaman sekolah.</p>
<p>Rombongan kirab dilepas oleh kepala SMP Negeri 4 Jombang Slamet Agus Tri Prastyo.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-3947" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2025/02/smp-negeri-4-jombang-2.jpg" alt="" width="750" height="408" /></p>
<p>Dengan membawa gunungan kue apem setinggi dua meter, mereka berjalan kaki, keliling desa Banjardowo Kecamatan Jombang.</p>
<p>Di belakang gunungan kue apem terdapat barisan ratusan siswi yang membawa nampan berisi tumpeng kue apem di atas kepalanya.</p>
<p>Kemudian di barisan belakangnya lagi terdapat rombongan siswa yang memainkan musik patrol, rombongan para guru, siswa-siswi berbusana muslim dan masih banyak lagi.</p>
<figure id="attachment_3948" aria-describedby="caption-attachment-3948" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-3948" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2025/02/smp-negeri-4-jombang-3.jpg" alt="" width="750" height="407" /><figcaption id="caption-attachment-3948" class="wp-caption-text">Siswi SMP Negeri 4 Jombang membawa nampan berisi tumpeng kue apem di atas kepalanya</figcaption></figure>
<p>Kue apem adalah kue tradisional yang terbuat dari bahan tepung beras.</p>
<p>Nama apem konon berasal dari bahasa arab, yaitu afwan yang berarti meminta maaf dan memaafkan.</p>
<p>Sehingga dengan mengarak kue apem tersebut, menurut Slamet Agus Tri Prastyo, Kepala SMP Negeri 4 Jombang, menjadi simbol untuk saling memaafkan sebelum menjalanj puasa di bulan Ramadhan.</p>
<figure id="attachment_3949" aria-describedby="caption-attachment-3949" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-3949" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2025/02/smp-negeri-4-jombang.jpg" alt="" width="750" height="408" /><figcaption id="caption-attachment-3949" class="wp-caption-text">Kepala SMP Negeri 4 Jombang, Slamet Agus Tri Prastyo memimpin kirab</figcaption></figure>
<p>Dengan kirab kue apem keliling desa, para siswa juga mengajak masyarakat untuk berpuasa selama satu bulan penuh dan memperbanyak kegjatan ibadah.</p>
<p>Sesampainya di sekolah, 1600 kue apem yang diarak diperebutkan oleh para siswa.</p>
<p>Jagadhita, Ketua Osis SMP Negeri 4 Jombang mengaku merasa senang dengan terselenggaranya acara kirab kue apem.</p>
<p>Sebab selama menggelar acara tersebut, siswa tak hanya bisa melatih dan membangun kekompakan, tapi juga bisa berdakwah mengingatkan masyarakat akan datangnya bulan suci Ramadhan yang penuh keberkahan.</p>
<p>&#8220;Kita bisa berlatih kekompakan, kerjasama dan dakwah menyambut bulan Ramadhan&#8221;, ujarnya.</p>
<p>Melalui kirab kue apem, para guru juga berharap seluruh siswanya di SMP Negeri 4 Jombang akan terbangun semangat spiritualitasnya dalam melaksanakan dan mensyiarkan ajaran Islam.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/sambut-ramadhan-1446-h-smp-negeri-4-jombang-gelar-kirab-kue-apem/">Sambut Ramadhan 1446 H, SMP Negeri 4 Jombang Gelar Kirab Kue Apem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/02/sambut-ramadhan-1446-h-smp-negeri-4-jombang-gelar-kirab-kue-apem/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Struktur Pemerintahan di Masa Majapahit</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/02/struktur-pemerintahan-di-masa-majapahit/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/02/struktur-pemerintahan-di-masa-majapahit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Feb 2025 06:36:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3939</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Majapahit meruoakan kerajaan terbesar yang pernah...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/struktur-pemerintahan-di-masa-majapahit/">Struktur Pemerintahan di Masa Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Majapahit meruoakan kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara.</p>
<p>Struktur pemerintahan pada zaman Kerajaan Majapahit (sekitar abad ke-13 hingga ke-16) mencerminkan sistem yang terorganisir dan hierarkis.</p>
<p>Berikut adalah gambaran umum struktur pemerintahan Majapahit dari atas hingga ke bawah:</p>
<p>1. Raja (Maharaja)</p>
<p>&#8211; Raja merupakan pemimpin tertinggi kerajaan dan dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia.</p>
<p>&#8211; Raja memiliki kekuasaan mutlak dalam pemerintahan, militer, dan keagamaan.</p>
<p>&#8211; Contoh raja terkenal: Raden Wijaya (pendiri Majapahit) dan Hayam Wuruk (masa kejayaan Majapahit).</p>
<p>2. Raja Muda (Yuwaraja)</p>
<p>&#8211; Raja muda biasanya adalah putra mahkota atau kerabat dekat raja yang dipersiapkan untuk menggantikan tahta.</p>
<p>&#8211; Bertugas membantu raja dalam menjalankan pemerintahan.</p>
<p>3. Dewan Pertimbangan Kerajaan (Bhatara Saptaprabu)</p>
<p>&#8211; Dewan ini terdiri dari para pejabat tinggi dan penasihat kerajaan.</p>
<p>&#8211; Tugasnya memberikan nasihat kepada raja dalam pengambilan keputusan penting.</p>
<p>4. Mahapatih (Perdana Menteri)</p>
<p>&#8211; Mahapatih adalah pejabat tertinggi setelah raja, bertanggung jawab atas administrasi dan pemerintahan sehari-hari.</p>
<p>&#8211; Contoh Mahapatih terkenal: Gajah Mada, yang mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara.</p>
<p>5. Dharmadyaksa (Pejabat Agama)</p>
<p>&#8211; Dharmadyaksa bertugas mengurusi masalah keagamaan dan spiritual.</p>
<p>&#8211; Terdapat dua Dharmadyaksa utama:<br />
&#8211; Dharmadyaksa ring Kasaiwan. Mengurusi agama Hindu.</p>
<p>&#8211; Dharmadyaksa ring Kasogatan. Mengurusi agama Buddha.</p>
<p>6. Rakryan (Pejabat Tinggi Kerajaan)</p>
<p>&#8211; Rakryan adalah pejabat tinggi yang memimpin berbagai bidang, seperti:</p>
<p>&#8211; Rakryan Mahamantri. Pemimpin urusan dalam negeri.</p>
<p>&#8211; Rakryan Demung: Bertugas mengatur rumah tangga kerajaan.</p>
<p>&#8211; Rakryan Kanuruhan: Bertugas sebagai penghubung antara raja dan rakyat.</p>
<p>&#8211; Rakryan Rangga: Bertanggung jawab atas urusan militer.</p>
<p>7. Bupati (Penguasa Wilayah)</p>
<p>&#8211; Bupati adalah penguasa daerah yang bertanggung jawab atas wilayah tertentu dalam kerajaan.</p>
<p>&#8211; Mereka membayar upeti kepada raja dan menjaga ketertiban di wilayahnya.</p>
<p>8. Pamong Praja (Aparatur Pemerintahan Lokal)</p>
<p>&#8211; Pamong praja adalah pejabat lokal yang membantu bupati dalam mengelola wilayah.</p>
<p>&#8211; Mereka bertugas mengatur administrasi, pajak, dan keamanan di tingkat desa.</p>
<p>9. Rakyat (Masyarakat Umum)</p>
<p>&#8211; Rakyat adalah penduduk biasa yang bekerja sebagai petani, pedagang, atau pengrajin.</p>
<p>&#8211; Mereka membayar pajak dan memberikan tenaga untuk proyek kerajaan.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>&#8211; Sistem pemerintahan Majapahit dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha, dengan raja sebagai pusat kekuasaan.</p>
<p>&#8211; Majapahit juga memiliki sistem mandala, di mana kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya tunduk dan membayar upeti kepada Majapahit.</p>
<p>Struktur ini menunjukkan betapa Majapahit memiliki sistem pemerintahan yang kompleks dan terorganisir, yang menjadi salah satu faktor pendukung kejayaannya.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/struktur-pemerintahan-di-masa-majapahit/">Struktur Pemerintahan di Masa Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/02/struktur-pemerintahan-di-masa-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Masyarakat Jaman Majapahit</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/02/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/02/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Feb 2025 07:43:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3935</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Kerajaan Majapahit, yang berpusat di...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit/">Kehidupan Masyarakat Jaman Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id</strong> &#8211; Kerajaan Majapahit, yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia, adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.</p>
<p>Kerajaan Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 (1293 M).</p>
<p>Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dengan mahapatih Gajah Mada.</p>
<p>Saat itu kehidupan masyarakat Majapahit mencerminkan kemajuan dalam berbagai aspek, termasuk politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama.</p>
<p>Aspek Kehidupan Masyarakat Majapahit:</p>
<p>1. Politik dan Pemerintahan.</p>
<p>&#8211; Majapahit memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dengan raja sebagai pemimpin tertinggi.</p>
<p>&#8211; Kerajaan ini menerapkan sistem pemerintahan desentralisasi, di mana daerah-daerah bawahan memiliki otonomi tetapi tetap setia kepada pusat.</p>
<p>&#8211; Gajah Mada, mahapatih Majapahit, terkenal dengan Sumpah Palapa-nya yang berambisi menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.</p>
<p>2. Ekonomi:</p>
<p>&#8211; Masyarakat Majapahit hidup dari pertanian, perdagangan, dan kerajinan.</p>
<p>&#8211; Majapahit menguasai jalur perdagangan maritim di Nusantara, menjadikannya pusat perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya.</p>
<p>&#8211; Mata uang yang digunakan adalah uang logam yang terbuat dari emas dan perak.</p>
<p>3. Sosial dan Budaya:</p>
<p>&#8211; Masyarakat Majapahit terdiri dari berbagai lapisan sosial, mulai dari bangsawan, pejabat, pedagang, hingga petani.</p>
<p>&#8211; Seni dan budaya berkembang pesat, termasuk seni arsitektur (candi), sastra (seperti kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca), dan seni pertunjukan.</p>
<p>&#8211; Bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan upacara keagamaan.</p>
<p>4. Agama:</p>
<p>&#8211; Mayoritas masyarakat Majapahit menganut agama Hindu dan Buddha, tetapi terdapat juga kepercayaan lokal dan sinkretisme antara kedua agama tersebut.</p>
<p>&#8211; Candi-candi seperti Candi Penataran dan Candi Sukuh menjadi bukti peninggalan keagamaan yang kaya.</p>
<p>5. Pertahanan dan Militer:</p>
<p>&#8211; Majapahit memiliki angkatan laut yang kuat, yang membantu dalam ekspansi dan menjaga keamanan wilayah.</p>
<p>&#8211; Pasukan darat juga terorganisir dengan baik, dipimpin oleh para panglima yang handal.</p>
<p>6. Hubungan Internasional:</p>
<p>&#8211; Majapahit menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara, India, dan China.</p>
<p>&#8211; Pengaruh budaya dan ekonomi Majapahit menyebar hingga ke wilayah-wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, dan Maluku.</p>
<p>Peninggalan Majapahit:</p>
<p>&#8211; Candi, Candi-candi seperti Candi Panataran, Candi Tikus, dan Candi Jabung.<br />
&#8211; Sastra, Kitab Negarakertagama, Sutasoma, dan Pararaton.</p>
<p>&#8211; Artefak, Patung, prasasti, dan benda-benda seni lainnya yang ditemukan di berbagai situs arkeologi.</p>
<p>Kehidupan masyarakat Majapahit mencerminkan kemajuan peradaban yang tinggi pada masanya, dengan warisan budaya dan sejarah yang masih berpengaruh hingga saat ini.</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit/">Kehidupan Masyarakat Jaman Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/02/kehidupan-masyarakat-jaman-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/02/penyebab-runtuhnya-kerajaan-majapahit/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/02/penyebab-runtuhnya-kerajaan-majapahit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Feb 2025 03:15:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3932</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Majapahit merupakan kerajaan terbesar yang...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/penyebab-runtuhnya-kerajaan-majapahit/">Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id</strong> &#8211; Majapahit merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara.</p>
<p>Namun seiring dengan berjalannya waktu, pengaruh kerajaan Majapahit mulai menurun akibat berbagai hal.</p>
<p>Bahkan secara bertahap, kerajaan Majapahit kemudian mulai runtuh.</p>
<p>Berikut adalah faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan keruntuhan Majapahit:</p>
<p>1. Konflik Internal</p>
<p>&#8211; Perang Paregreg (1404-1406): Perang saudara antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dan Bhre Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari selir) melemahkan kekuatan Majapahit.</p>
<p>Perang ini menguras sumber daya dan menciptakan perpecahan di dalam kerajaan.</p>
<p>&#8211; Persaingan Tahta: Setelah masa kejayaan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, terjadi persaingan sengit di antara anggota keluarga kerajaan untuk memperebutkan kekuasaan.</p>
<p>Hal ini menyebabkan instabilitas politik.</p>
<p>2. Kemunduran Ekonomi</p>
<p>&#8211; Melemahnya Perdagangan: Majapahit sangat bergantung pada perdagangan maritim.</p>
<p>Namun, dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa seperti Demak, jalur perdagangan beralih ke wilayah-wilayah tersebut, mengurangi pendapatan Majapahit.</p>
<p>&#8211; Berkurangnya Pengaruh di Wilayah Taklukan: Banyak wilayah taklukan Majapahit mulai melepaskan diri karena lemahnya kontrol pusat.</p>
<p>3. Kebangkitan Kerajaan-Kerajaan Islam</p>
<p>&#8211; Kemunculan Kesultanan Demak: Kesultanan Demak, yang didirikan oleh Raden Patah pada akhir abad ke-15, menjadi kekuatan baru di Jawa.</p>
<p>Demak tidak hanya menguasai perdagangan tetapi juga menyebarkan pengaruh Islam, yang semakin mengurangi dukungan terhadap Majapahit.</p>
<p>&#8211; Penyebaran Islam: Agama Islam yang berkembang pesat di pesisir utara Jawa menarik banyak pengikut, termasuk bangsawan dan rakyat biasa, sehingga mengurangi legitimasi Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha.</p>
<p>4. Bencana Alam dan Wabah Penyakit</p>
<p>&#8211; Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa bencana alam seperti letusan gunung berapi dan wabah penyakit turut memperburuk kondisi ekonomi dan sosial di Majapahit.</p>
<p>5. Serangan dari Kerajaan Lain</p>
<p>&#8211; Serangan Girindrawardhana dari Kediri (1478): Girindrawardhana, penguasa Kediri, menyerang Majapahit dan berhasil merebut ibukota.</p>
<p>Peristiwa ini sering dianggap sebagai titik akhir kekuasaan Majapahit, meskipun sisa-sisa pengaruhnya masih bertahan di beberapa wilayah kecil.</p>
<p>6. Perubahan Sosial dan Budaya</p>
<p>&#8211; Pergeseran nilai-nilai budaya dan agama dari Hindu-Buddha ke Islam mengubah struktur masyarakat Jawa.</p>
<p>Majapahit, sebagai representasi kekuasaan Hindu-Buddha, kehilangan relevansinya dalam konteks sosial baru.</p>
<p><strong>Tahun Keruntuhan</strong></p>
<p>&#8211; Secara tradisional, tahun 1478 dianggap sebagai tahun keruntuhan Majapahit, meskipun beberapa wilayah kecil masih mempertahankan identitas Majapahit hingga abad ke-16.</p>
<p>Warisan Majapahit</p>
<p>&#8211; Meskipun kerajaannya telah runtuh, namun warisan budaya, seni, dan administrasi Majapahit tetap berpengaruh dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia, terutama di Jawa.</p>
<p>Dengan demikian, keruntuhan Majapahit adalah hasil dari kombinasi faktor internal seperti konflik politik dan ekonomi, serta faktor eksternal seperti kebangkitan kerajaan-kerajaan Islam dan perubahan sosial-budaya.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/penyebab-runtuhnya-kerajaan-majapahit/">Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/02/penyebab-runtuhnya-kerajaan-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kerajaan Majapahit</title>
		<link>https://joinmedia.id/2025/02/sejarah-kerajaan-majapahit/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2025/02/sejarah-kerajaan-majapahit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Feb 2025 22:48:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3929</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/sejarah-kerajaan-majapahit/">Sejarah Kerajaan Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.</p>
<p>Kerajaan Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16.</p>
<p>Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada.</p>
<p>Berikut adalah sejarah singkat Kerajaan Majapahit:</p>
<p dir="ltr">1. Pendirian Kerajaan Majapahit</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293. Ia adalah menantu Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari.</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Setelah Kerajaan Singhasari runtuh akibat serangan Kerajaan Kediri (di bawah Jayakatwang), Raden Wijaya melarikan diri dan mendirikan kerajaan baru di daerah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Dengan bantuan pasukan Mongol yang awalnya datang untuk menyerang Jawa, Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang dan kemudian mengusir pasukan Mongol sendiri.</p>
<p dir="ltr">2. Masa Kejayaan Majapahit</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk <a href="tel:13501389">(1350-1389</a>) dan dibantu oleh mahapatih Gajah Mada.</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Gajah Mada terkenal dengan Sumpah Palapa,  di mana ia bersumpah tidak akan menikmati kesenangan duniawi sebelum menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Pada masa ini, wilayah kekuasaan Majapahit meliputi hampir seluruh Nusantara, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Malaysia dan Filipina.</p>
<p dir="ltr">3. Kemunduran dan Keruntuhan</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Setelah wafatnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit mulai mengalami kemunduran akibat konflik internal, perebutan kekuasaan, dan melemahnya pemerintahan pusat.</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Pada awal abad ke-16, kerajaan ini semakin terdesak oleh munculnya kerajaan-kerajaan Islam, seperti Kesultanan Demak.</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Majapahit akhirnya runtuh sekitar tahun 1527.</p>
<p dir="ltr">4. Warisan Budaya dan Pengaruh</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Majapahit meninggalkan warisan budaya yang besar, termasuk arsitektur (seperti Candi Penataran), sastra (seperti kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca), dan sistem pemerintahan.</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Kerajaan ini juga menjadi simbol persatuan Nusantara dan sering dijadikan inspirasi dalam konteks nasionalisme Indonesia.</p>
<p dir="ltr">5. Peninggalan Arkeologi</p>
<p dir="ltr">   &#8211; Situs-situs peninggalan Majapahit banyak ditemukan di Trowulan, Mojokerto, seperti Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu, dan Kolam Segaran.</p>
<p dir="ltr">Kerajaan Majapahit tetap dikenang sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia, yang berhasil menyatukan wilayah Nusantara dan meninggalkan warisan budaya yang berharga.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2025/02/sejarah-kerajaan-majapahit/">Sejarah Kerajaan Majapahit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2025/02/sejarah-kerajaan-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ekskavasi Petirtan Sumberbeji 2024 Selesai, Ini Yang Ditemukan Arkeolog</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-2024-selesai-ini-yang-ditemukan-arkeolog/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-2024-selesai-ini-yang-ditemukan-arkeolog/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Dec 2024 13:54:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3430</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Setelah berlangsung selama 10 hari, ekskavasi terhadap...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-2024-selesai-ini-yang-ditemukan-arkeolog/">Ekskavasi Petirtan Sumberbeji 2024 Selesai, Ini Yang Ditemukan Arkeolog</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Setelah berlangsung selama 10 hari, ekskavasi terhadap petirtan Sumberbeji di Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Kabuopaten Jombang akhirnya dinyatakan selesai.</p>
<p>Ekskavasi terhadap petirtan Sumberbeji di Jombang tersebut merupakan ekskavasi yang sudahkesekian kalinya dilakukan.</p>
<p>Tujuannya untuk mencari jalur buang agar petirtan yang penemuannya dulu menghebohkan warga di Jombang itu tidak terus terendam.</p>
<p>Berbeda dengan ekskavasi sebelumnya, dalam ekskavasi tahun 2024 ini, arkeolog menggandeng ahli hidrologi dari Universitas Gajah Mada (UGM).</p>
<p>Harapannya, mereka nanti akan bisa membantu mencari solusi agar posisi air yang selama ini merendam petirtan Sumberbeji bisa dikembalikan seperti jaman dulu saat petirtan Sumberbeji masih difungsikan pada masa raja Mpu Sindok, Kadiri atau masa Majapahit.</p>
<p>Dalam ekskavasi yang sudah dilakukan tersebut, Arkeolog kembali menemukan saluran air tepat di sudut timur laut dari kolam utama.</p>
<p>Strukturnya terbuat dari bata merah dengan ukuran sama dengan bata yang ada di dalam petirtan.</p>
<p>Dari petirtan utama, jarak struktur tersebut hanya sekitar 5 hingga 7 meter.</p>
<p>Petugas menduga, struktur tersebut adalah jalur buang air sehingga di masa lalu petirtan Sumberbeji tidak terus terendam.</p>
<p>Posisi struktur yang diduga jalur buang itu berada di dalam tanah dengankedalaman sekitar 2 meter.</p>
<p>Namun sayangnya, proses penggalian belum dapat dilanjutkan lagi karena artah jalur buangnya masuk ke sawah-sawah warga.</p>
<figure id="attachment_3099" aria-describedby="caption-attachment-3099" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-3099" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/11/Sumberbeji-jombang-2.jpeg" alt="" width="750" height="410" /><figcaption id="caption-attachment-3099" class="wp-caption-text">Para pekerja lakukan penggalian di sisi timur Petirtan Sumberbeji</figcaption></figure>
<p>Seperti diberitakan sebelumnya, Petirtan Sumberbeji adalah sebuah kolam kuno yang diduga dibangun pada masa kerajaan medang era Jawa Timur.</p>
<p>Kolam yang diduga dulu sangat megah ini diduga dibangun pada masa raja Mpu Sindok.</p>
<p>Dilihat dari arsitekturnya yang megah, kuat dugaan, petirtan ini bukanlah petirtan biasa, tetapi sebuah petirtan yang diperuntukkan bagi raja atau keluarga raja.</p>
<p>Ukurannya sangat besar, panjang dan lebarnya mencapai 17 kali 20 meter persegi.</p>
<p>Bahkan ada yang menduga juga bahwa posisi Petirtan ini dulu berada tak jauh dari istana tempat raja berkedudukan.</p>
<p>Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya sebuah bangunan besar di Dusun Kedaton Desa Bulurejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang di tengah area persawahan warga.</p>
<p>Namun sayangnya, puing-puing bangunan besar yang ditemukan sekitar tahun 2017 tersebut kini sudah hilang akibat aktifitas penggalian pasir dan lambannya respon dari pejabat terkait.</p>
<p>Meski dibangun pada masa raja Mpu Sindok, Petirtan Sumberbeji kemudian tetap dipergunakan pada masa raja-raja berikutnya, termasuk pada masa kerajaan Kadiri hingga Majapahit.</p>
<p>Dugaan itu didasarkan atas ditemukannya tiga lapis budaya yang ada di dalam petirtan Sumberbeji.</p>
<p>Saat melakukan ekskavasi, selain bata merah era mpu sindok yang mendominasi, Arkeolog juga menemukan pasangan bata merah era Kadiri dan era Majapahit.</p>
<p>Para ahli menduga, pada masa Kadiri, petirtan Sumberbeji pernah direnovasi dan dipergunakan untuk aktifitas para penguasa pada waktu itu.</p>
<p>Demikian juga pada masa Majapahit, ada sebagian bata kuno yang menempel dan menutup sebagian bangunan diantara bata-bata kuno era Mpu Sindok.</p>
<p>Arkeolog meyakini, pada masa Majapahit petirtan ini juga pernah direnovasi dan difungsikan.</p>
<p>Namun pada masa raja siapa hal tersebut dilakukan, hingga kini masih belum ditemukan petunjuk yang dapat mengungkapkannya.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-2024-selesai-ini-yang-ditemukan-arkeolog/">Ekskavasi Petirtan Sumberbeji 2024 Selesai, Ini Yang Ditemukan Arkeolog</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-2024-selesai-ini-yang-ditemukan-arkeolog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Clorotan, Cara Warga di Bareng Jombang agar Terhindar Dari bahaya Petir dan Banjir</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/12/tradisi-clorotan-cara-warga-di-bareng-jombang-agar-terhindar-dari-bahaya-petir-dan-banjir/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/12/tradisi-clorotan-cara-warga-di-bareng-jombang-agar-terhindar-dari-bahaya-petir-dan-banjir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Dec 2024 16:02:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3264</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Warga di Kabupaten Jombang sangat kaya akan...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/12/tradisi-clorotan-cara-warga-di-bareng-jombang-agar-terhindar-dari-bahaya-petir-dan-banjir/">Tradisi Clorotan, Cara Warga di Bareng Jombang agar Terhindar Dari bahaya Petir dan Banjir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Warga di Kabupaten Jombang sangat kaya akan tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya.</p>
<p>Agar terhindar dari bencana saat musim penghujan, warga di Jombang menggelar tradisi yang cukup unik, yaitu clorotan.</p>
<p>Tradisi tersebut hingga kini masih dilestarikan oleh warga di Desa Bareng Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang.</p>
<p>Dengan membawa aneka jajanan khas, ratusan warga desa bareng berbondong-bondong mendatangi makam desanya, Jumat (6/12/24).</p>
<p>Selain untuk mendoakan leluhur, mereka juga menggelar doa bersama untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT dalam memasuki musim penghujan.</p>
<p>Lewi, sesepuh warga di desa bareng menjelaskan, ada bebebrapa jenis kue yang khas dan wajib dibawa saat acara clorotan.</p>
<p>Diantaranya adalah kue clorot yang terbuat dari bahan tepung diikat dengan janur, kue pasung, kue brondong yang terbuat dari jagung.</p>
<p>Dalam kepercayaan warga, ketiga jenis kue tersebut diibaratkan sebagai cuaca yang kerap terjadi saat musim penghujan.</p>
<p>Seperti kue clorot misalnya dianalogikan sebagai petir yang membahayakan, kue pasung dianggap sebagai banjir dan kue brondong yang dianggap sebagai mendung di langit.</p>
<p>Setelah berdoa bersama, aneka kue yang dibawa tadi kemudian dimakan bersama oleh warga.</p>
<p>Dengan tradisi tersebut, mereka berharap akan terhindar akan terhindar dari bencana petir dan banjir yang kerap terjadi saat musim penghujan.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/12/tradisi-clorotan-cara-warga-di-bareng-jombang-agar-terhindar-dari-bahaya-petir-dan-banjir/">Tradisi Clorotan, Cara Warga di Bareng Jombang agar Terhindar Dari bahaya Petir dan Banjir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/12/tradisi-clorotan-cara-warga-di-bareng-jombang-agar-terhindar-dari-bahaya-petir-dan-banjir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ekskavasi Petirtan Sumberbeji Jombang, Arkeolog Libatkan Ahli Hidrologi Dari UGM</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-jombang-arkeolog-libatkan-ahli-hidrologi-dari-ugm/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-jombang-arkeolog-libatkan-ahli-hidrologi-dari-ugm/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Dec 2024 12:19:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3217</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Ekskavasi terhadap situs Sumberbeji di Kabupaten Jombang...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-jombang-arkeolog-libatkan-ahli-hidrologi-dari-ugm/">Ekskavasi Petirtan Sumberbeji Jombang, Arkeolog Libatkan Ahli Hidrologi Dari UGM</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Ekskavasi terhadap situs Sumberbeji di Kabupaten Jombang terus berlanjut.</p>
<p>Situs Sumberbeji merupakan petirtan atau kolam suci kuno yang berada di Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Jombang.</p>
<p>Ekskavasi dilakukan dengan kerjasama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur.</p>
<p>Eskavasi terhadap situs Sumberbeji telah dilakukan sejak beberapa hari lalu dan akan berlangsung selama sepuluh hari.</p>
<p>Dalam ekskavasi tahun 2024 ini, petugas melakukan penggalian di sisi timur petirtan.</p>
<p>Tujuannya adalah untuk mencari potensi adanya struktur di daerah tersebut.</p>
<p>Dalam beberapa hari ini, petugas telah membuat beberapa kotak gali dengan kedalaman sekitar dua meter.</p>
<p>Namun dari kotak-kotak gali tersebut petugas tidak menemukan struktur yang dimaksud.</p>
<p>Hanya di beberapa kotak saja, petugas menemukan potongan bata merah berukuran sangat besar yang diduga merupakan bata yang lepas dari petirtan Sumberbeji.</p>
<p>Penggalian juga dilakukan di sisi timur laut yang diduga menjadi jalur buang air dari petirtan.</p>
<p>Namun hingga beberapa hari dilakukan, petugas belum menemukan potensi struktur yang dimaksud.</p>
<p>Tak hanya oleh arkeolog saja, dalam ekskavasi tahun 2024 ini, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa timur juga menggandeng ahli hidrologi dari Universitas Gajahmada (UGM) Jogjakarta.</p>
<p>Tujuannya adalah untuk meneliti aspek keairan yang ada di dalam petirtan Sumberbeji.</p>
<p>Joko Lukmanto, ahli Hidrologi dari UGM menjelaskan, selama beberapa hari melakukan penelitian di Petirtan Sumberbeji, pihaknya menemukan adanya dua sumber mata air.</p>
<p>Satu sumber mata air berada di sudut timur petirtan dan satu sumber lagi berada di sisi barat petirtan namun dengan debit yang sangat besar.</p>
<p>Itu sebabnya selama ekskavasi berlangsung, petugas harus menyalakan pompa air untuk menguras air yang merendam fisik petirtan.</p>
<p>Sebab sekali saja pompa airnya dimatikan, maka dalam hitungan menit, petirtan atau kolam Sumberbeji seluas 18 x 20 meter ini akan langsung terendam.</p>
<p>Meski demikian, dari mana asal munculnya sumber mata air yang sangat besar mirip dengan sungai bawah tanah tersebut, hingga kini masih misterius.</p>
<p>Joko Lukmanto memastikan, sumber air yang mengalir deras ke petirtan Sumberbeji berasal dari lokasi yang cukup jauh, bukan dari sumber di area petirtan.</p>
<p>Namun di mana lokasi sumber air misterius tersebut, Joko Lukmanto belum bisa mengungkapnya.</p>
<p>Dalam hidrologi, sumber mata air seperti ini, menurut Joko Lukmanto, biasanya dikenal dengan sumber artesis yang berasal dari dalam tanah yang tekannya sangat besar sehingga bisa naik tanpa harus menggunakan pompa air.</p>
<p>Meski demikian, Joko Lukmanto meyakini, sumber artesis air yang mengalir ke petirtan sumberbeji bukanlah sumur bor buatan di masa lalu, tapi merupakan sumber artesis alami yang dikelola dan diolah menjadi sumber mata air bagi petirtan.</p>
<figure id="attachment_3099" aria-describedby="caption-attachment-3099" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-3099" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/11/Sumberbeji-jombang-2.jpeg" alt="" width="750" height="410" /><figcaption id="caption-attachment-3099" class="wp-caption-text">Para pekerja lakukan penggalian di sisi timur Petirtan Sumberbeji</figcaption></figure>
<p>Sementara untuk kandungan air di situs Sumberbeji yang sangat jernih, Joko Lukmanto mengaku belum mengetahui karena belum menelitinya.</p>
<p>Sebab menurutnya, tugas utama yang harus ia pecahkan dari Situs Sumberbeji adalah mencari cara agar air yang mengalir ke dalam petirtan tidak sampai penuh dan menutup fisik petirtan.</p>
<p>Ia diberi tugas oleh BPK Jawa Timur untuk mencari solusi agar posisi ketinggian air di dalam petirtan Sumberbeji bisa kembali lagi seperti jaman dulu saat petirtan sumberbeji masih dipergunakan pada era Mpu Sindok. Kadiri hingga Majapahit.</p>
<p>Karena tugasnya cukup berat, Joko Lukmanto memastikan, tugas mengembalikan aliran dan ketinggian air di situs Sumberbeji seperti seribu tahun silam tidak akan bisa berlangsung cepat dalam 10 hari masa ekskavasi ini.</p>
<p>Pekerjaan tersebut, menurut Joko Lukmanto, butuh waktu lama bahkan bisa lebih dari satu tahun ke depan.</p>
<p>Sehingga setelah masa keksvavasi nanti selesai, Joko akan melakukan kajian terhadap hasil penelitiannya di situs sumberbeji ini bersama tim di UGM.</p>
<p>Lalu bersama tim itulah menurut Joko, yang nanti akan mencari cara agar struktur air di situs Sumberbeji Jombang bisa kembali seperti saat awal dibuat, sekitar era raja Mpu Sindok, seribu tahun silam.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-jombang-arkeolog-libatkan-ahli-hidrologi-dari-ugm/">Ekskavasi Petirtan Sumberbeji Jombang, Arkeolog Libatkan Ahli Hidrologi Dari UGM</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/12/ekskavasi-petirtan-sumberbeji-jombang-arkeolog-libatkan-ahli-hidrologi-dari-ugm/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Petirtan Sumberbeji Kembali Diekskavasi Oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jatim</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/11/petirtan-sumberbeji-kembali-diekskavasi-oleh-balai-pelestarian-kebudayaan-bpk-jatim/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/11/petirtan-sumberbeji-kembali-diekskavasi-oleh-balai-pelestarian-kebudayaan-bpk-jatim/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Nov 2024 11:56:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=3097</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur kembali...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/11/petirtan-sumberbeji-kembali-diekskavasi-oleh-balai-pelestarian-kebudayaan-bpk-jatim/">Petirtan Sumberbeji Kembali Diekskavasi Oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jatim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur kembali melakukan ekskavasi terhadap situs Sumberbeji di Kabupaten Jombang, Selasa (26/11/24).</p>
<p>Lokasinya di Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Jombang.</p>
<p>Situs Sumberbeji merupakan salah satu situs bersejarah di Jombang yang diduga peninggalan dari Mpu Sindok,</p>
<p>Situs berupa petirtan kuno tersebut ditemukan warga pada tahun 2018.</p>
<p>Saat itu, warga bermaksud membuka sumber air di bawah pohon raksasa yang ada di sebuah punden di Desa Kesamben, karena aliran air ke sawah mereka mengecil.</p>
<p>Namun saat menggali pada kedalaman dua meter, warga menemukan struktur saluran irigasi kuno yang terbuat dari bata merah.</p>
<p>Ukuran batanya sangat besar, jauh lebih besar dari ukuran bata era sekarang.</p>
<p>Atas temuan warga tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang kemudian segera melaporkannya kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) saat itu.</p>
<p>Hingga pada tahun 2019, BPCB Jawa Timur kemudian menerjunkan arkeolognya untuk melakukan ekakavasi.</p>
<p>Hasilnya kemudian terungkap bahwa saluran air itu ternyata mengarah pada sebuah kolam kuno yang sangat megah.</p>
<p>Ukuran kolam kuno tersebut cukup besar, panjangnya mencapai 20 meter dan lebar 18 meter.</p>
<p>Di dalam kolam tersebut, petugas menemukan sejumlah batu jaladwara atau saluran air yang memancar dari dinding kolam (pancuran).</p>
<p>Dilihat dari struktur dan ukuran batanya, petugas menduga situs Sumberbeji merupakan petirtan kuno yang telah dibangun pada era Sri Maharaja Mpu Sindok.</p>
<p>Petirtan Sumberbeji kemudian tetap dipergunakan dan direnovasi pada masa kediri dan masa Majapahit.</p>
<p>Dugaan tersebut didasarkan atas susunan bata merah di Petirtan Sumberbeji yang berasal dari tiga masa tersebut.</p>
<p>Hal lain yang mendukung narasi Petirtan Sumberbeji sebagai peninggalan dari masa Mpu Sindok adalah dari gaya ukiran batu jaladwara dan arca Garudea yang ditemukan di dalam petirtan.</p>
<p>Batu-batu jaladwara tersebut ditemukan dalam kondisi terlepas dari dinding dan berjatuhan di lantai petirtan.</p>
<p>Satu-satunya ornamen yang masih melekat di dinding petirtan hanyalah arca Garudea.</p>
<figure id="attachment_3099" aria-describedby="caption-attachment-3099" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-3099 size-full" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/11/Sumberbeji-jombang-2.jpeg" alt="" width="750" height="410" /><figcaption id="caption-attachment-3099" class="wp-caption-text">Para pekerja lakukan ekskavasi di sebelah timur laut petirtan Sumberbeji di Ngoro Jombang</figcaption></figure>
<p>Dilihat dari struktur tanah yang menimbunnya, petirtan Sumberbeji kemudian tertimbun di dalam tanah akibat bencana dahsyat yang pernah terjadi di masa lalu.</p>
<p>Bencana tersebut diduga terjadi hingga beberapa kali, sehingga gundukan tanah yang menimbunnya sangat tebal, mencapai hampir tiga meter.</p>
<p>Dalam ekskavasi tahun 2024 ini, petugas berusaha melakukan penggalian di sisi timur petirtan.</p>
<p>Namun demikian, penggalian tersebut hanya berupa tespit saja untuk mencari kemungkinan adanya potensi struktur yang masih terpendam di sebelah timur petirtan.</p>
<p>Proses ekskavasi ini akan berlangsung selama 10 hari yang dimulai sejak tanggal 21 November hingga 1 Desember mendatang.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/11/petirtan-sumberbeji-kembali-diekskavasi-oleh-balai-pelestarian-kebudayaan-bpk-jatim/">Petirtan Sumberbeji Kembali Diekskavasi Oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jatim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/11/petirtan-sumberbeji-kembali-diekskavasi-oleh-balai-pelestarian-kebudayaan-bpk-jatim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Tiga Pekan Diblokir, Jalan Masuk Ke Situs Sumberbeji Ngoro Jombang Kini Dibuka Kembali</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/11/setelah-tiga-pekan-diblokir-jalan-masuk-ke-situs-sumberbeji-ngoro-jombang-kini-dibuka-kembali/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/11/setelah-tiga-pekan-diblokir-jalan-masuk-ke-situs-sumberbeji-ngoro-jombang-kini-dibuka-kembali/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Nov 2024 12:10:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=2979</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Setelah ditutup selama tiga pekan, jalan masuk...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/11/setelah-tiga-pekan-diblokir-jalan-masuk-ke-situs-sumberbeji-ngoro-jombang-kini-dibuka-kembali/">Setelah Tiga Pekan Diblokir, Jalan Masuk Ke Situs Sumberbeji Ngoro Jombang Kini Dibuka Kembali</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Setelah ditutup selama tiga pekan, jalan masuk ke situs Sumberbeji di Kabupaten Jombang akhirnya dibuka kembali.</p>
<p>Pembukaan palang bambu yang menutup jalan masuk ke situs Sumberbeji di Jombang dilakukan langsung oleh keluarga pemilik tanah, Asikurrohman, Senin (11/11/24).</p>
<p>Sejumlah pejabat dari Muspika Ngoro Jombang juga terlihat hadir di sana.</p>
<p>Dibantu oleh anggota polisi dan TNI, Asikurrohman, keluarga pemilik tanah, melepas batang bambu yang menutup jalan masuk ke situs Sumberbeji satu persatu.</p>
<p>Setelah jalannya terbuka, Camat Ngoro, Nur Evva Maylia, bersama Danramil dan Kapolsek Ngoro langsung berjalan kaki masuk ke dalam area situs.</p>
<p>Nur Evva Maylia menjelaskan, pembukaan jalan masuk menuju situs sumberbeji dilakukan setelah para pengurus paguyupan yang selama dua bulan ini mengelola situs Sumberbeji mengundurkan diri.</p>
<p>Sebelumnya, keluarga pemilik tanah nekat menutup jalan masuk ke Situs Sumberbeji karena menuntut diberikan kompensasi.</p>
<p>Oleh paguyupan pengelola situs Sumberbeji, permohonan pemilik tanah tersebut tak kunjung ditanggapi.</p>
<p>Akibatnya, pemilik tanah geram sehingga nekat memblokir jalan masuk ke dalam situs Sumberbeji.</p>
<p>Pada hari Jumat lalu, seluruh pengurus paguyupan pelestari situs sumberbeji membuat surat pernyataan mengundurkan diri.</p>
<p>Atas pengunduran diri tersebut, Camat Ngoro mewakili pemerintah langsung mengembalikan pengelolaan situs Sumberbeji kepada pemerintah Desa Kesamben.</p>
<p>Hingga setelah dilakukan musyawarah antara pemerintah Desa Kesamben dengan keluarga pemilik tanah, diperoleh kesepakatan sehingga pemilik tanah bersedia membuka lagi palang bambu yang menutup jalan ke dalam situs.</p>
<figure id="attachment_2981" aria-describedby="caption-attachment-2981" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-2981" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/11/Ngoro-Jombang-2.jpeg" alt="" width="750" height="402" /><figcaption id="caption-attachment-2981" class="wp-caption-text">Pemilik tanah dibantu warga membuka kembali palang bambu yang menutup jalan masuk ke situs Sumberbeji di Ngoro Jombang</figcaption></figure>
<p>Seperti diberitakan sebelumnya, situs Sumberbeji adalah situs bersejarah berupa kolam/petirtan/pemandian kuno yang diduga peninggalan dari masa raja Mpu Sindok.</p>
<p>Ukurannya sangat besar dan bentuknya sangat indah.</p>
<p>Situs Sumberbeji sebelumnya tertimbun di dalam tanah dan baru ditemukan pada tahun 2018 silam.</p>
<p>Setelah diekskavasi selama dua tahun, bentuk megah situs Sumberbeji kini bisa dilihat secara keseluruhan.</p>
<p>Penemuan situs bersejarah yang diperkirakan sebagai pemandian keluarga bangsawan itu tentu saja menarik perhatian dari masyarakat luas.</p>
<p>Setiap hari, wisatawan banyak yang berdatangan ke situs Sumberbeji untuk melihat situs cagar budaya peringkat nasional tersebut.</p>
<p>Terhitung sejak bulan Agustus 2024, pengelolaan situs Sumberbeji dialihkan dari Pemdes Kesamben kepada Paguyupan Pelestari Situs Sumberbeji.</p>
<p>Namun setelah terjadi polemik dengan pemilik tanah yang menjadi jalan masuk ke dalam situs, para pengurus paguyupan menyatakan mengundurkan diri, sehingga pengelolaan situs Sumberbeji kini dikembalikan lagi kepada Pemerintah Desa Kesamben.</p>
<p>Dengan dibukanya kembali situs Sumberbeji tersebut, Nur Evva Maylia, Camat Ngoro, berharap, seluruh masyarakat bisa berkunjung lagi ke situs Sumberbeji dengan leluasa dan memanfaatkan situs tersebut sebagai wahana edukasi sejarah.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/11/setelah-tiga-pekan-diblokir-jalan-masuk-ke-situs-sumberbeji-ngoro-jombang-kini-dibuka-kembali/">Setelah Tiga Pekan Diblokir, Jalan Masuk Ke Situs Sumberbeji Ngoro Jombang Kini Dibuka Kembali</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/11/setelah-tiga-pekan-diblokir-jalan-masuk-ke-situs-sumberbeji-ngoro-jombang-kini-dibuka-kembali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pagelaran Jombang Culture Carnival Pukau Ribuan Warga Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/10/pagelaran-jombang-culture-carnival-pukau-ribuan-warga-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/10/pagelaran-jombang-culture-carnival-pukau-ribuan-warga-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Oct 2024 12:52:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=2846</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Acara Jombang Culture Carnival (JCC) telah selesai...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/10/pagelaran-jombang-culture-carnival-pukau-ribuan-warga-jombang/">Pagelaran Jombang Culture Carnival Pukau Ribuan Warga Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Acara Jombang Culture Carnival (JCC) telah selesai digelar, Sabtu (19/10/24).</p>
<p>Acara tersebut merupakan bagian dari Agenda Jombang Fest 2024.</p>
<p>Perhelatan akbar ini digelar untuk memperingati Hari Jadi Pemkab Jombang ke 114 dan hari Santri Nasional.</p>
<p>Dalam Jombang Culture Carnival, para peserta tampil memukau dengan berbagai busana unik yang bertemakan budaya Kota Santri.</p>
<p>Mulai dari kesenian Besutan asli Jombang, tampilan tentang Situs Sendang Made di Desa Made, Kecamatan Kudu, hingga penampilan bala pasukan kerajaan dan ogoh-ogoh.</p>
<p>JCC dimulai dengan rute dari GOR di Jalan Gus Dur, Jalan Wahid Hasyim hingga finish di Taman Kebonrojo kota Jombang.</p>
<p>Wor Windari, Plh. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menjelaskan, JCC merupakan bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap warisan budaya di Kabupaten Jombang.</p>
<p>&#8220;Melalui acara ini kita dapat menyaksikan berbagai pertunjukan yang dikemas dengan kreativitas dan inovasi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Ini juga sebagai salah satu wujud upaya Pemerintah Kabupaten Jombang dalam menyediakan wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan potensi dan unggulannya,&#8221; tambah Wor Windari.</p>
<p>&#8220;Jombang telah dan akan terus berkontribusi secara signifikan dalam berbagai bidang. Baik pembangunan infrastruktur maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia,&#8221; pungkasnya.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/10/pagelaran-jombang-culture-carnival-pukau-ribuan-warga-jombang/">Pagelaran Jombang Culture Carnival Pukau Ribuan Warga Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/10/pagelaran-jombang-culture-carnival-pukau-ribuan-warga-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival Jambu Gondangmanis di Jombang Dibanjiri Ribuan Pengunjung</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/09/festival-jambu-gondangmanis-di-jombang-dibanjiri-ribuan-pengunjung/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/09/festival-jambu-gondangmanis-di-jombang-dibanjiri-ribuan-pengunjung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Sep 2024 14:59:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=2629</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Festival Jambu Gondang Manis di Kabupaten...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/09/festival-jambu-gondangmanis-di-jombang-dibanjiri-ribuan-pengunjung/">Festival Jambu Gondangmanis di Jombang Dibanjiri Ribuan Pengunjung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Festival Jambu Gondang Manis di Kabupaten Jombang dibanjiri ribuan warga, Minggu (15/9/24) sore.</p>
<p>Acara tersebut digelar di lapangan Desa Gondangmanis Kecamatan Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang.</p>
<p>Warga ingin melihat secara langsung sekaligus mengikuti festival Jambu Gondangmanis yang telah menjadi salah satu acara andalan bagi masyarakat di Jombang.</p>
<p>Tak hanya warga biasa, Pj Bupati Jombang, Teguh Narutomo maupun Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Jombang, Munjidah-Sumrambah juga tampak hadir di sana.</p>
<p>Jambu Gondangmanis adalah buah sejenis jambu air.</p>
<p>Festival jambu Gondangmanis rutin digelar oleh warga setiap satu tahun sekali.</p>
<p>Tujuannya adalah untuk mengangkat dan mengenalkan potensi desa Gondangmanis di Kecamatan Bandarkedungmulyo sebagai sentra penghasil buah Jambu Gondangmanis di Jombang.</p>
<p>Festival Jambu Gondangmanis digelar selama dua hari.</p>
<p>Pada hari Sabtu (14/9/24), acaranya adalah membuat rujak uleg massal yang diikuti oleh 260 orang emak-emak.</p>
<p>Kemudian hari ini, acaranya adalah arak-arakan gunungan buah jambu Gondangmanis dari halaman kantor Desa menuju lapangan.</p>
<p>Dalam acara tersebut, warga dari setiap dusun membuat gunungan buah jambu dan aneka sayur mayur masing-masing setinggi dua hingga tiga meter.</p>
<p>Setelah tiba di lapangan Desa, gunungan buah jambu dan aneka hasil bumi tersebut kemudian diletakkan mengelilingi gunungan buah jambu raksasa.</p>
<p>Setelah waktu yang ditentukan tiba, panitia kemudian membagikan gunungan buah jambu tersebut kepada ribuan warga yang hadir.</p>
<p>Tak pelak, selama pembagian berlangsung, warga saling dorong dan berdesakan.</p>
<p>Sebab panitia membagikan buah jambu dari atas gunungan dengan cara dilempar-lemparkan ke arah warga.</p>
<p>Meski demikian, warga mengaku sangat senang mengikuti tradisi ini.</p>
<p>Melalui festival jambu Gondangmanis, Lukman Hakim, Kepala desa Gondangmanis berharap desanya akan semakin dikenal oleh masyarakat sebagai satu-satunya desa sentra penghasil buah jambu gondangmanis di Kabupaten Jombang.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/09/festival-jambu-gondangmanis-di-jombang-dibanjiri-ribuan-pengunjung/">Festival Jambu Gondangmanis di Jombang Dibanjiri Ribuan Pengunjung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/09/festival-jambu-gondangmanis-di-jombang-dibanjiri-ribuan-pengunjung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warisan Tongkat KH Hasyim Asyari di Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/08/warisan-tongkat-kh-hasyim-asyari-di-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/08/warisan-tongkat-kh-hasyim-asyari-di-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Aug 2024 14:28:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=2055</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Bagi warga di Jombang, KH Hasyim Asyari...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/08/warisan-tongkat-kh-hasyim-asyari-di-jombang/">Warisan Tongkat KH Hasyim Asyari di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Bagi warga di Jombang, KH Hasyim Asyari merupakan ulama yang sangat mereka hormati.</p>
<p>KH Hasyim Asyari di Jombang adalah salah satu tokoh pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia.</p>
<p>KH Hasyim Asyari di Jombang juga dikenal sebagai guru bangsa sekaligus pejuang yang berjasa besar dalam sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Kini, meski ulama kharismatik asal Jombang itu telah tiada, namun ilmu dan ajaran yang ia wariskan tetap dipegang teguh oleh masyarakat dan menjadi pedoman dalam hidup beragama dan berbangsa.</p>
<p>Tak hanya warisan yang bersifat keilmuan saja, warisan berupa benda yang pernah dipergunakan oleh KH Hasyim Asyari semasa hidup sampai saat ini juga masih terjaga dan dirawat dengan sangat baik oleh cucu cucunya di Jombang.</p>
<p>Salah satu cucu yang intensif merawat benda benda peninggalan KH Hasyim Aysari di Jombang itu adalah KH Riza Yusuf Hasyim atau yang lebih akrab disapa Gus Riza.</p>
<p>Gus Riza adalah cucu KH Hasyim Asyari dari KH Yusuf Hasyim, Putra KH Hasyim Asyari yang dulu biasa dikenal dengan nama pak Ud dan pernah menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sebelum KH Shalahudin Wahid (Gus Sholah).</p>
<p>Di kediamannya di Jombang, Gus Riza menyimpan berbagai benda yang dulu pernah dipergunakan oleh KH Hasyim Asyari dan keluarganya, mulai dari kursi tamu, peralatan memasak (berupa centong dan talam dari kuningan), batu lumpang, hingga lemari kayu.</p>
<p>Selain itu ada juga peninggalan yang diletakkan di sebuah tempat khusus, yaitu tongkat Mbah Hasyim.</p>
<p>Diduga, tongkat yang terbuat dari kayu itulah yang dulu sering dibawa oleh KH Hasyim Asyari saat menjalankan berbagai aktifitasnya.</p>
<p>Namun demikian, Gus Riza megaku tidak mengetahui secara persis dipergunakan untuk apa saja tongkat tersebut oleh KH Hasyim Asyari.</p>
<p>“Saya hanya merawat dari Bapak setelah wafat itu”, Ujar Gus Riza.</p>
<p>Di halaman samping rumahnya, Gus Riza juga menyimpan ratusan tegel (dibaca tehel/tekel) bekas masjid pesantren Tebuireng yang dulu dibangun oleh KH Hasyim Asyari.</p>
<p>Karena masjidnya direnovasi dan lantai yang dipakai KH Hasyim Asyari dulu sudah tidak dipergunakan, Gus Riza kemudian mengumpulkan ratusan lembar tegel tersebut di rumahnya sebagai kenang-kenangan.</p>
<p>Meski demikian, menurut Gus Riza banyak alumni dari Pesantren Tebuireng yang ingin membangun masjid di daerahnya datang ke rumahnya dan meminta beberapa lembar dari tegel tersebut untuk dijadikan lantai utama di masjid mereka.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/08/warisan-tongkat-kh-hasyim-asyari-di-jombang/">Warisan Tongkat KH Hasyim Asyari di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/08/warisan-tongkat-kh-hasyim-asyari-di-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sejarah Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/08/mengenal-sejarah-pondok-pesantren-tambakberas-di-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/08/mengenal-sejarah-pondok-pesantren-tambakberas-di-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Aug 2024 13:41:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1826</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Bagi warga di Jombang, nama Pondok Pesantren...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/08/mengenal-sejarah-pondok-pesantren-tambakberas-di-jombang/">Mengenal Sejarah Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Bagi warga di Jombang, nama Pondok Pesantren Tambakberas tentu sudah tidak asing lagi.</p>
<p>Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang sudah sangat dikenal oleh masyarakat sebagai cikal bakal berdirinya sejumlah Pondok Pesantren besar.</p>
<p>Pondok Pesantren Tambakberas berada di Dusun Tambakberas Desa Tambakrejo Kecamatan Jombang.</p>
<p>Dari kota Jombang, Pondok Pesantren Tambakberas hanya berjarak 8,3 kilometer dan dapat dicapai dengan waktu perjalanan sekitar 19 menit.</p>
<p><strong>Sejarah Pondok Pesantren Tambakberas</strong></p>
<p>Pondok Pesantren Tambakberas didirikan pertama kali oleh Kiyai Abdus Salam, salah satu tokoh dalam perjuangan melawan Belanda yang dipimpin oleh pangeran Diponegoro.</p>
<p>Perang antara Pangeran Diponegoro melawan Belanda berlangsung selama 5 tahun, yaitu antara tahun 1825 hingga 1830.</p>
<p>Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda pada tanggal 28 Maret 1830, seluruh pengikutnya kemudian melarikan diri dan menyebar ke berbagai daerah.</p>
<p>Salah satunya adalah Kyai Abdus Salam yang masuk ke wilayah Kabupaten Jombang yang kala itu masih berupa hutan belantara.</p>
<p>Bersama 25 orang pengikutnya, Kiyai Abdus Salam kemudian membuka hutan dan mendirikan tempat tinggal di sebelah timur sungai Tambakberas.</p>
<p>Ada tiga bangunan yang didirikan saat itu, yaitu pondok kecil untuk tempat tinggal Kyai Abdus Salam, sebuah langgar (tempat ibadah) dan sebuah pondok kecil lainnya untuk tempat tinggal 25 orang pengikut sekaligus santrinya.</p>
<p>Itu sebabnya oleh masyarakat, Pondok yang dihuni oleh Kyai Abdus Salam dan 25 orang santrinya itu kemudian dikenal dengan nama Pondok Selawe (bahasa jawa yang artinya 25).</p>
<p>Secara silsilah, Kyai Abdus Salam sebenarnya adalah keturunan dari raja Brawijaya V.</p>
<p>Kyai Abdus Salam adalah putra dari Kyai Abdul Jabar bin (putra) Kyai Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin (putra) Kyai Abdurrohman (Joko Tingkir).</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, jumlah santri yang belajar/mondok di Pondok Selawe terus bertambah.</p>
<p>Bahkan lingkungan tempat tinggal Kyai Abdus Salam yang dulunya hutan belantara kemudian berubah menjadi pemukiman penduduk.</p>
<p>Khawatir dengan pesatnya perkembangan Pondok yang dipimpin Kyai Abdus Salam, Belanda kemudian berusaha mencegah dengan menangkapnya.</p>
<p>Terakhir kali, Belanda mengirim seorang utusan untuk mengundang dan membawa Kyai Abdus Salam menghadap ke Belanda.</p>
<p>Di depan rumah Kyai Abdus Salam, utusan Belanda itu berteriak teriak memanggil nama Kyai Abdus Salam agar keluar dan mau dibawa ke Belanda.</p>
<p>Kyai Abdus Salam yang merasa kesal kemudian keluar dan membentak utusan yang berteriak teriak tersebut.</p>
<p>Anehnya, begitu mendapat bentakan dari Kyai Abdus Salam, utusan Belanda itu langsung terkapar tewas bersama kuda yang ditungganginya.</p>
<p>Karena bentakannya yang keras dan menakutkan itulah, Kyai Abdus Salam kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Shoichah yang artinya bentakan.</p>
<p>Kyai Abdus Salam atau mbah Shoichah memiliki istri seorang putri dari Demak yang bernama Muslimah.</p>
<p>Dari pernikahannnya tersebut, Kyai Abdus Salam memiliki putra/putri, diantaranya adalah Layyinah, Fatimah, Abu Bakar, Marfu’ah, Jama’ah, Mustaharoh, Ali Ma’un, Fatawi, dan Abu Syakur.</p>
<p><strong>Generasi Kedua</strong></p>
<p>Setelah berusia lanjut, Kyai Abdus Salam mewariskan Pondok Pesantren Tambakberas kepada dua orang murid yang sekaligus menjadi menantunya, yaitu Kyai Usman dan Kyai Said.</p>
<p>Mereka mengembangkan Pondok Pesantren Tambakberas menjadi dua cabang.</p>
<p>Kyai Usman mengajarkan ilmu Tarekat di timur sungai Tambakberas, sementara Kyai Said mengembangkan ilmu Syariat di sebelah barat sungai Tambakberas.</p>
<p><strong>Generasi Ketiga</strong></p>
<p>Setelah Kyai Said wafat, pengurusan Pondok Pesantren Tambakberas diteruskan oleh putranya, yaitu Kyai Chasbullah.</p>
<p>Sedangkan pesantren Kyai Usman tidak ada yang meneruskan karena tidak memiliki anak laki-laki.</p>
<p>Meski demikian, Kiyai Usman memiliki anak perempuan yang bernama Halimah dan kemudian dinikahi oleh Kyai Asyari hingga memiliki 11 orang anak dan yang nomor 3 adalah KH Hasyim Asyari, pendiri NU.</p>
<p>Sementara pengurusan Pondok Pesantren Tambakberas dilanjutkan oleh Kyai Chasbullah.</p>
<p>Kyai Chasbullah memiliki putra yang bernama Abdul Wahab.</p>
<p>Kyai Chasbullah mengirim putranya tersebut untuk belajar agama ke tanah suci Makkah.</p>
<p>Setelah pulang dari Mkkah, pada tahun 1914, Kyai Abdul Wahab mengubah system pendidikan di Pondok Pesantren Tambakberas dari Halaqoh menjadi Madarasah.</p>
<p><strong>Generasi keempat</strong></p>
<p>Sepeninggal ayahnya, Kyai Chasbullah yang wafat pada tahun 1920, Kyai abdul Wahab mengelola Pesantren Tambakberas dengan dibantu oleh dua adiknya yang juga lulusan Makkah, yaitu Kyai Abdul Hamid dan Kyai Abdurrohim.</p>
<p>Lalu pada tahun 1965, Kyai Abdul Wahab merubah nama Pondok Pesantren Tambakberas dengan nama Bahrul Ulum yang artinya lautan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Nama Bahrul Ulum di Pondok Pesantren Tambakberas tetap dipergunakan hingga sekarang.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/08/mengenal-sejarah-pondok-pesantren-tambakberas-di-jombang/">Mengenal Sejarah Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/08/mengenal-sejarah-pondok-pesantren-tambakberas-di-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memasuki Usia 125 Tahun, Ternyata Begini Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/08/memasuki-usia-125-tahun-ternyata-begini-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/08/memasuki-usia-125-tahun-ternyata-begini-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Aug 2024 13:17:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1799</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Siapa yang tak kenal dengan Pondok...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/08/memasuki-usia-125-tahun-ternyata-begini-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/">Memasuki Usia 125 Tahun, Ternyata Begini Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id</strong> &#8211; Siapa yang tak kenal dengan Pondok Pesantren Tebuireng di Kabupaten Jombang.</p>
<p>Pondok Pesantren Tebuireng merupakan salah satu Pondok Pesantren tertua di kota santri Jombang.</p>
<p>Nama Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang tak hanya dikenal oleh masyarakat di dalam negeri tapi juga sampai ke luar Negeri.</p>
<p>Maklum saja, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang adalah tokoh yang namanya sangat masyhur, yaitu KH Hasyim Asyari.</p>
<p>Selain menjadi pendiri Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, nama KH Hasyim Asyari juga dikenal sebagai Pahlawan Nasional yang memiliki jasa besar dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan.</p>
<p>Pondok Pesantren Tebuireng terletak di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek.</p>
<p>Dari kota Jombang, Pondok Pesantren Tebuireng berada di sebelah selatan dengan jarak 7,3 kilometer dan dapat dicapai dengan waktu perjalanan sekitar 14 menit.</p>
<p><strong>Lokasi Awal</strong></p>
<p>Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH Hasyim Asyari pada tahun 1899.</p>
<p>Saat itu, Dusun Tebuireng dikenal sebagai sarang pelacuran, perjudian, pencurian dan perampokan.</p>
<p>KH Hasyim Asyari kemudian memulai dakwah dengan membeli sepetak tanah bekas warung seluas 6 x 8 meter persegi milik seorang dalang.</p>
<p>Di tempat tersebut ada dua buah bangunan dengan ruangan kecil yang terbuat dari anyaman bambu.</p>
<p>Satu ruangan dipergunakan sebagai tempat pengajian dan satu ruangan dipakai untuk tempat tinggal KH Hasyim Asyari bersama istrinya, Khodijah.</p>
<p>Sejak kedatangan KH Hasyim Asyari tersebut, lama kelamaan pola kehidupan masyarakat di Dusun Tebuireng mulai berubah.</p>
<p>Aktifitas masyarakat yang sebelumnya selalu mengarah pada hal yang negatif kemudian berubah menjadi baik.</p>
<p>Sementara Pondok Pesantren Tebuireng juga terus berkembang dan jumlah santrinya bertambah banyak.</p>
<p><strong>Sistem Pendidikan</strong></p>
<p>Di awal masa berdirinya, sistem pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng masih dijalankan secara sederhana, dengan menggunakan dua metode, yaitu metode Sorogan dan Bandongan.</p>
<p>Metode sorogan adalah santri belajar membaca kitab kuning di hadapan guru, sementara metode bandongan adalah Kiyai membaca kitab kuning lalu para santri menulis makna pada kitabnya masing-masing.</p>
<p>Pada tahun 1919, KH Hasyim Asyari kemudian merubah sistem pendidikan di Pesantren Tebuireng dengan sistem klasikal.</p>
<p>Lalu pada tahun 1929 kembali dilakukan pembaharuan dengan memasukkan pelajaran umum ke dalam kurikulum pesantren.</p>
<p><strong>Daftar Nama Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng</strong></p>
<p>Setelah KH Hasyim Asyari Wafat pada tahun 1947, pengurusan Pondok Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh putra dan cucu cucunya.</p>
<p>Berikut adalah daftar nama Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sejak awal berdiri hingga sekarang:</p>
<p>1. KH Hasyim Asyari 1899 – 1947<br />
2. KH Abdul Wahid Hasyim 1947 – 1950<br />
3. KH Abdul Karim Hasyim 1950 – 1951<br />
4. KH Achmad Baidhowi 1951 – 1952<br />
5. KH Abdul Kholiq Hasyim 1952 – 1965<br />
6. KH Muhammad Yusuf Hasyim 1965 – 2006<br />
7. KH Shalahudin Wahid 2006 – 2020<br />
8. KH Abdul Hakim Mahfudz 2020 &#8211; sekarang.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/08/memasuki-usia-125-tahun-ternyata-begini-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/">Memasuki Usia 125 Tahun, Ternyata Begini Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/08/memasuki-usia-125-tahun-ternyata-begini-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jelang Suro, Jasa Menjamas Pusaka di Jombang Kebanjiran Order</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/07/jelang-suro-jasa-menjamas-pusaka-di-jombang-kebanjiran-order/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/07/jelang-suro-jasa-menjamas-pusaka-di-jombang-kebanjiran-order/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jul 2024 09:25:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1672</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Datangnya bulan Suro disambut dengan penuh sukacita...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/07/jelang-suro-jasa-menjamas-pusaka-di-jombang-kebanjiran-order/">Jelang Suro, Jasa Menjamas Pusaka di Jombang Kebanjiran Order</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Datangnya bulan Suro disambut dengan penuh sukacita oleh warga di Kabupaten Jombang.</p>
<p>Menjelang bulan Suro, sebagian warga di Jombang memiliki berbagai tradisi khusus.</p>
<p>Diantara tradisi yang masih dilestarikan dan sering dilakukan warga di Jombang adalah ritual jamasan atau mencuci benda-benda pusaka.</p>
<p>Ragam benda pusaka yang biasanya dijamas oleh warga, mulai dari keris, tombak, hingga pedang.</p>
<p>Namun demikian, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjamas atau mencuci benda pusakanya.</p>
<p>Mereka memilih meminta bantuan kepada orang tertentu yang memang dikenal memiliki keahlian untuk menjamas benda-benda pusaka.</p>
<p>Akibatnya setiap bulan Suro datang, para ahli mencuci benda pusaka kebanjiran order untuk menjamas.</p>
<p>Salah satunya adalah Yudi Rianto, warga Desa Mojotengah Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang.</p>
<p>Bertempat di halaman belakang rumahnya, Yudi tampak sibuk menjamas benda-benda pusaka milik para pelanggannya, Jumat (5/7/24).</p>
<p>Menurut Yudi, menjamas atau mencuci benda pusaka tidak bisa dilakukan sembarangan.</p>
<p>Sebab jika salah, benda-benda pusaka yang usianya sudah mencapai ratusan tahun itu akan rusak dan pamornya hilang.</p>
<p>Jika itu terjadi, maka benda pusaka tersebut menjadi tidak bernilai lagi.</p>
<p>Sebelum menjamas, Yudi akan memeriksa terlebih dahulu kondisi pusaka yang akan ia jamas.</p>
<p>Jika kondisinya berkerak dan berkarat, maka ia akan mencucinya terlebih dahulu termasuk dengan menggunakan bahan-bahan khusus yang berbahaya (beracun).</p>
<p>Itupun harus ia lakukan dengan sangat hati-hati.</p>
<p>Setelah bersih, Yudi akan melakukan proses yang kedua, yaitu menjamas atau warangan.</p>
<figure id="attachment_1674" aria-describedby="caption-attachment-1674" style="width: 956px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1674" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/07/Jamas-Jombang.jpeg" alt="" width="956" height="577" /><figcaption id="caption-attachment-1674" class="wp-caption-text">Prosesi warangan dilakukan Yudi untuk memunculkan pamor keris dalam ritual jamasan di kediaman Yudi di Jombang</figcaption></figure>
<p>Dalam proses ini, Yudi mencuci benda pusaka dengan air kembang untuk memunculkan pamornya.</p>
<p>Di bulan Suro ini, Yudi mengaku sudah mendapat order lebih dari 500 keris dan berbagai benda pusaka lainnya untuk ia jamas.</p>
<p>Benda-benda pusaka itu tak hanya milik warga Jombang saja, tapi juga milik warga dari berbagai daerah lainnya, seperti Lamongan dan Tuban.</p>
<p>Dari jasa menjamas benda-benda pusaka tersebut, upah yang diterima Yudi bervariasi mulai dari lima puluh hingga seratus ribu rupiah.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/07/jelang-suro-jasa-menjamas-pusaka-di-jombang-kebanjiran-order/">Jelang Suro, Jasa Menjamas Pusaka di Jombang Kebanjiran Order</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/07/jelang-suro-jasa-menjamas-pusaka-di-jombang-kebanjiran-order/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah KH Hasyim Asyari, Pendiri Ponpes Tebuireng di Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-kh-hasyim-asyari-pendiri-ponpes-tebuireng-di-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-kh-hasyim-asyari-pendiri-ponpes-tebuireng-di-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2024 14:03:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1455</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Kabupaten Jombang memiliki tokoh yang sejak era...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-kh-hasyim-asyari-pendiri-ponpes-tebuireng-di-jombang/">Sejarah KH Hasyim Asyari, Pendiri Ponpes Tebuireng di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Kabupaten Jombang memiliki tokoh yang sejak era penjajahan hingga merdeka namanya sudah mendunia, beliau adalah KH Hasyim Asyari.</p>
<p>KH Hasyim Asyari merupakan tokoh yang sangat alim dan ahli dalam ilmu agama dari Jombang.</p>
<p>Banyak kitab karya KH Hasyim Asyari yang ditulis di Jombang namun menyebar dan dijadikan rujukan dalam pembelajaran Islam di berbagai Negara.</p>
<p><strong>KELAHIRAN</strong></p>
<p>KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari pasangan suami istri Kyai Asyari dan Nyai Halimah.</p>
<p>Ayah KH Hasyim Asyari berasal dari Demak Jawa tengah, sementara ibunya adalah putri dari Kyai Ustman yang juga cucu dari Kyai Abdus Salam, Pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras.</p>
<p>KH Hasyim Asyari lahir pada tanggal 24 Dzulqodah 1287 H atau bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di rumah kakeknya, di Dusun Gedang Desa Tambakrejo Kecamatan Jombang.</p>
<p>Berbeda dengan bayi pada umumnya, KH Hasyim Asyari konon lahir setelah berada di dalam kandungan ibunya selama 14 bulan.</p>
<p>Lamanya usia kehamilan tersebut dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai isyarat akan keistimewaan sang bayi.</p>
<p>Keyakinan tersebut dikuatkan oleh Nyai Halimah yang konon pernah bermimpi melihat bulan jatuh ke perutnya saat mengandung KH Hasyim Asyari.</p>
<p>Dan apa yang diperkirakan tersebut akhirnya terbukti.</p>
<p>Sejak masih kecil, KH Hasyim Asyari sudah memiliki sifat yang istimewa, suka menolong, dan melindungi.</p>
<p>Saat bermain bersama teman-teman sebayanya, KH Hasyim Asyari selalu menjadi penengah.</p>
<p>KH Hasyim Asyari kecil juga dikenal rajin bekerja, mandiri, dan tidak suka bergantung pada orang lain.</p>
<p><strong>PENDIDIKAN</strong></p>
<p>Sejak berusia 15 tahun, KH Hasyim Asyari mulai merantau untuk belajar ilmu agama ke sejumlah pesantren. Mulai dari Pondok Pesantren di Wonokoyo Probolinggo, Pondok Pesantren Langitan Tuban, Pondok Pesantren Trenggilis Surabaya, Pondok Pesantren Kademangan di Bangkalan, dan Pondok Pesantren Siwalan di Sidoarjo.</p>
<p>Konon, di Pondok Pesantren asuhan Kyai Yakub di Siwalan itulah KH Hasyim Asyari menemukan ilmu yang ia cari.</p>
<p>Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang memiliki pengetahuan luas dan ilmu agama yang dalam.</p>
<p>Setidaknya, 5 tahun KH Hasyim Asyari tekun menimba ilmu di Siwalan.</p>
<p>Saat usianya menginjak 21 tahun, Kyai Ya’qub kemudian menikahkan KH Hasyim Asyari dengan putrinya yang bernama Nyai Khodijah.</p>
<p>Tak lama setelah pernikahan tersebut, KH Hasyim Asyari muda kemudian membawa istrinya pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Saat itu, KH Hasyim Asyari hanya 7 bulan berada di Makkah karena istri dan anak pertamanya meninggal dunia di tanah suci.</p>
<p>Pada tahun 1893 KH Hasyim Asyari kembali berangkat ke Makkah dengan tujuan untuk belajar ilmu agama.</p>
<p>Selama 7 tahun di Makkah, KH Hasyim Asyari berguru kepada Syeh Achmad Khotib Minangkabawi, Syeh Machfudz At tarmidzi, dan para ulama besar di sana.</p>
<p>Pada tahun 1899 KH Hasyim Asyari pulamg ke tanah air dan mengajar di Pesantren milik kakeknya, Kyai Ustman.</p>
<p>Tidak lama setelah itu KH hasyim Asyari mendirikan Pondok Pesantren sendiri di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek.</p>
<p><strong>KETURUNAN</strong></p>
<p>KH Hasyim Asyari menikah dengan istri keduanya yang bernama Nyai Nafiqoh, putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun.</p>
<p>Dari istri keduanya tersebut, KH Hasyim Asyari memiliki 10 orang anak, yaitu Hannah,Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim, Abdul Hakim (Abdul Kholik), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh dan Muhammad Yusuf.</p>
<p>Setelah istri keduanya wafat, KH Hasyim Asyari menikah lagi dengan Nyai Masruroh, putri dari Kyai Hasan, Pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri.</p>
<p>Dari istri ketiganya tersebut, KH Hasyim Asyari memiliki 4 orang anak, yaitu Abdul Qodir, Fatimah, Khodijah, dan Muhammad ya’qub.</p>
<p><strong>PERAN KH HASYIM ASYARI</strong></p>
<p>KH Hasyim Asyari dikenal sebagai ulama terkemuka pada masanya.</p>
<p>KH Hasyim Asyari memiliki jasa besar dalam berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia, mulai dari pendirian organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU, atau dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan.</p>
<p>KH Hasyim Asyari kemudian wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H atau bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947.</p>
<p>Saat itu, KH Hasyim Asyari sedang menerima tamu utusan Panglima Sudirman yang akan menginformasikan keadaan Negara pasca agresi militer I tanggal 21 Juli 1947.</p>
<p>KH Hasyim Asyari terkejut karena daerah Singasari telah dikuasai oleh Belanda.</p>
<p>KH Hasyim Asyari yang awalnya jatuh pingsan sempat dipanggilkan dokter untuk memberikan pertolongan.</p>
<p>Namun KH Hasyim Asyari ternyata sudah berpulag ke Rohmatullah.</p>
<p>Pada tanggal 7 September 1964 KH Hasyim Asyari kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-kh-hasyim-asyari-pendiri-ponpes-tebuireng-di-jombang/">Sejarah KH Hasyim Asyari, Pendiri Ponpes Tebuireng di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-kh-hasyim-asyari-pendiri-ponpes-tebuireng-di-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-masjid-pondok-pesantren-tebuireng-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-masjid-pondok-pesantren-tebuireng-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2024 14:27:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1410</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Diantara tempat bersejarah yang patut anda kunjungi...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-masjid-pondok-pesantren-tebuireng-jombang/">Sejarah Masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Diantara tempat bersejarah yang patut anda kunjungi saat berada di Kabupaten Jombang adalah Masjid Tebuireng.</p>
<p>Masjid Tebuireng di Jombang merupakan saksi bisu perjuangan KH Hasyim Asyari dalam menyebarkan Islam dan menghadapi tekanan penjajah.</p>
<p>Bangunan Masjid Tebuireng yang dulu didirikan oleh KH Hasyim Asyari di Jombang masih terawat baik hingga sekarang.</p>
<p><strong>PEMBANGUNAN</strong></p>
<p>Belum diketahui pasti pada tanggal dan tahun berapa masjid Tebuireng didirikan, namun dapat dipastikan proses pembangunannya dilakukan saat tebuireng masih diasuh oleh KH Hasyim Asyari antara tahun 1899 hingga tahun 1947.</p>
<p>Di era KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah), Masjid Tebuireng telah diperluas agar bisa menampung santri yang jumlahnya saat itu semakin bertambah.</p>
<p>Namun demikian bangunan asli dari Masjid Tebuireng era KH Hasyim Asyari masih tetap dipertahankan.</p>
<p>Perluasan yang dilakukan era Gus Sholah hanya bagian serambi masjid saja yang ukurannya jauh lebih besar dari masjid utama.</p>
<p>Mulai dari mihrob, tempat imam, dinding, lantai, pintu dan jendelanya yang masih bergaya klasik tetap dipertahankan hingga sekarang.</p>
<p><strong>DAYA TARIK</strong></p>
<p>Beberapa tahun lalu sejumlah perwakilan dari lembaga internasional pernah ada yang datang dan berkunjung untuk melihat arsitektur masjid Tebuireng peninggalan KH Hasyim Asyari yang khas.</p>
<p>Sebab tak hanya unik, masjid Tebuireng tersebut juga memiliki nilai sejarah tinggi terutama dalam kisah perjuangan merebut kemerdekaan dan dakwah Islam di Indonesia.</p>
<p>Sampai sekarang, Masjid Tebuireng peninggalan KH Hasyim Asyari di Jombang itu juga menjadi tempat favorit bagi para santri maupun para alumni saat berkunjung ke Tebuireng.</p>
<p>Mereka rela menyempatkan diri untuk shalat wajib, shalat sunnah atau sekedar membaca Alquran di dalam bangunan masjid yang diwariskan oleh KH Hasyim Asyari tersebut.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-masjid-pondok-pesantren-tebuireng-jombang/">Sejarah Masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/04/sejarah-masjid-pondok-pesantren-tebuireng-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Masjid Tebuireng di Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-tebuireng-di-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-tebuireng-di-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Mar 2024 13:06:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1314</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Diantara tempat bersejarah yang patut anda kunjungi...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-tebuireng-di-jombang/">Sejarah Masjid Tebuireng di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Diantara tempat bersejarah yang patut anda kunjungi saat berada di Kabupaten Jombang adalah Masjid Tebuireng.</p>
<p>Masjid Tebuireng di Jombang merupakan saksi bisu perjuangan KH Hasyim Asyari dalam menyebarkan Islam dan menghadapi tekanan penjajah.</p>
<p>Bangunan Masjid Tebuireng yang dulu didirikan oleh KH Hasyim Asyari di Jombang masih terawat baik hingga sekarang.</p>
<p><strong>PEMBANGUNAN</strong></p>
<p>Belum diketahui pasti pada tanggal dan tahun berapa masjid Tebuireng didirikan, namun dapat dipastikan proses pembangunannya dilakukan saat tebuireng masih diasuh oleh KH Hasyim Asyari antara tahun 1899 hingga tahun 1947.</p>
<p>Di era KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah), Masjid Tebuireng telah diperluas agar bisa menampung santri yang jumlahnya saat itu semakin bertambah.</p>
<p>Namun demikian bangunan asli dari Masjid Tebuireng era KH Hasyim Asyari masih tetap dipertahankan.</p>
<p>Perluasan yang dilakukan era Gus Sholah hanya bagian serambi masjid saja yang ukurannya jauh lebih besar dari masjid utama.</p>
<p>Mulai dari mihrob, tempat imam, dinding, lantai, pintu dan jendelanya yang masih bergaya klasik tetap dipertahankan hingga sekarang.</p>
<p><strong>DAYA TARIK</strong></p>
<p>Beberapa tahun lalu sejumlah perwakilan dari lembaga internasional pernah ada yang datang dan berkunjung untuk melihat arsitektur masjid Tebuireng peninggalan KH Hasyim Asyari yang khas.</p>
<p>Sebab tak hanya unik, masjid Tebuireng tersebut juga memiliki nilai sejarah tinggi terutama dalam kisah perjuangan merebut kemerdekaan dan dakwah Islam di Indonesia.</p>
<p>Sampai sekarang, Masjid Tebuireng peninggalan KH Hasyim Asyari di Jombang itu juga menjadi tempat favorit bagi para santri maupun para alumni saat berkunjung ke Tebuireng.</p>
<p>Mereka rela menyempatkan diri untuk shalat wajib, shalat sunnah atau sekedar membaca Alquran di dalam bangunan masjid yang diwariskan oleh KH Hasyim Asyari tersebut.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-tebuireng-di-jombang/">Sejarah Masjid Tebuireng di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-tebuireng-di-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Masjid Jami Bahrul Ulum Tambakberas Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-jami-bahrul-ulum-tambakberas-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-jami-bahrul-ulum-tambakberas-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Mar 2024 07:48:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1296</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Kabupaten Jombang sangat kaya akan masjid bersejarah,...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-jami-bahrul-ulum-tambakberas-jombang/">Sejarah Masjid Jami Bahrul Ulum Tambakberas Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Kabupaten Jombang sangat kaya akan masjid bersejarah, salah satunya adalah Masjid Jami Bahrul Ulum.</p>
<p>Masjid Jami Bahrul Ulum merupakan salah satu bangunan ibadah sekaligus pusat dakwah di Jombang yang sudah berusia lebih dari 1 abad.</p>
<p>Masjid Jami Bahrul Ulum terletak di dalam kawasan Pondok Pesantren Tambak Beras, Desa Tambakrejo Kecamatan/Kabupaten Jombang.</p>
<p>Di era perjuangan merebut kemerdekaan, Masjid Jami Bahrul Ulum juga menjadi basis para pejuang untuk melawan penjajah.</p>
<p><strong>PEMBANGUNAN MASJID</strong></p>
<p>Masjid Jami Bahrul DI Tambakberas Jombang didirikan oleh KH Wahab Hasbullah, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras sekitar tahun 1914.</p>
<p>Pembangunan masjid itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan Pondok Pesanren Tambak Beras Jombang yang jumlah santrinya kala itu terus bertambah dan semakin banyak.</p>
<p>Selain menjadi pusat pendidikan dan dakwah, Masjid Jami Bahrul Ulum Tambak Beras ternyata juga pernah dijadikan markas oleh para pejuang saat melawan penjajah pada tahun 1942 hingga tahun 1948.</p>
<p>Konon, di Masjid itulah para pejuang digembleng oleh KH Wahab Hasbullah baik dibidang ilmu agama maupun ilmu kanuragan.</p>
<p>Di masjid itu pula, konon para tokoh pejuang, seperti KH Hasyim Asyari mengadakan rapat rapat penting untuk mengatur strategi dalam peperangan.</p>
<p>Masjid Jami Bahrul Ulum Jombang memiliki sebuah menara yang diperkirakan paling tinggi di masa lalu.</p>
<p>Pada tahun 1948, KH Wahab Hasbullah disebutkan pernah menuliskan 4 huruf arab pada dinding menara, yaitu huruf Kha, Ro’, Ta’, Mim atau yang bisa dibaca Khuurun Taammiim, yang artinya kemerdekaan yang sempurna.</p>
<p>Diduga, 4 huruf tersebut dituliskan oleh KH Wahabhasbulloh untuk pengingat akan keberhasilan para pejuang mengusir penjajah dalam agresi militer belanda sekaligus datangnya pengakuan dari beberapa Negara terkait kemerdekaan Negara Indonesia.</p>
<p>Hingga kini, bentuk Masjid Jami Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang masih dipertahankan utuh seperti awal dibangun karena dianggap sebagai tempat bersejarah sekaligus saksi perjuangan pasukan Hisbulloh melawan penjajah.***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-jami-bahrul-ulum-tambakberas-jombang/">Sejarah Masjid Jami Bahrul Ulum Tambakberas Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-masjid-jami-bahrul-ulum-tambakberas-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang &#8211; Sejarah Pondok Njoso</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-darul-ulum-jombang-sejarah-pondok-njoso/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-darul-ulum-jombang-sejarah-pondok-njoso/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Mar 2024 03:10:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1281</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Banyak Pesantren di Kabupaten Jombang yang dipilih...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-darul-ulum-jombang-sejarah-pondok-njoso/">Sejarah Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang &#8211; Sejarah Pondok Njoso</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Banyak Pesantren di Kabupaten Jombang yang dipilih para orang tua menjadi tempat belajar bagi putra putrinya, salah satunya adalah Pondok Pesantren Darul Ulum.</p>
<p>Pondok Pesantren Darul Ulum merupakan salah satu pondok pesantren terbesar di Jombang.</p>
<p>Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang memiliki santri dalam jumlah yang sangat banyak, lebih dari 13 ribu orang.</p>
<p><strong>LOKASI</strong></p>
<p>Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang berdiri di atas lahan seluas 42.5 hektar.</p>
<p>Lokasinya di Desa Rejoso Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang.</p>
<p>Dari kota Jombang, Pondok Pesantren Darul Ulum berada di sebelah timur dengan jarak sekitar 8,2 kilometer dan dapat ditempuh dengan waktu perjalanan sekitar 19 menit.</p>
<p><strong>SEJARAH</strong></p>
<p>Pondok Pesantren Darul Ulum didirikan pertama kali oleh KH Tamim Irsyad, murid KH Cholil dari Bangkalan Madura.</p>
<p>Pada tahun 1885, atas perintah gurunya, KH Tamim Isryad datang ke Desa Rejoso di Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang yang saat itu masih berupa hutan belantara.</p>
<p>Selain itu, lingkungan di sekitar hutan yang didatangi KH Tamim Irsyad juga dikenal sebagai daerah hitam yang masyarakatnya gemar berjudi, minum-minuman keras dan berbagai kegiatan negatif lainnya.</p>
<p>Tidak mudah bagi KH Tamim Irsyad untuk tinggal dan mendirikan pesantren di Rejoso.</p>
<p>Ia harus berjuang keras agar dapat diterima oleh masyarakat di sana.</p>
<p>Untuk membantu KH Tamim Irsyad, KH Cholil Bangkalan kemudian mengutus satu orang santrinya lagi yang bernama KH Djuraemi agar datang ke Desa Rejoso.</p>
<p>KH Djuraemi yang kemudian berganti nama menjadi KH Cholil membantu mengajar ilmu Tauhid dan Tasawuf, sementara KH Tamim Irsyad mengajar ilmu Alquran dan Fiqih.</p>
<p>Di Rejoso, KH Tamim Irsyad menikahkan KH Cholil dengan putrinya yang bernama Nyai Fatimah.</p>
<p>Pada saat itu, jumlah santri di Pondok Pesantren Darul Ulum terus bertambah mencapai 200 orang.</p>
<p>Karena jumlah santrinya semakin banyak dan mayoritas berasal dari luar kota, pada tahun 1898 KH Tamim Irsyad kemudian mendirikan surau untuk tempat mengaji dan tempat tinggal para santri.</p>
<p>Guna membantu mengajar di pesantren, KH Cholil kemudian mendatangkan adiknya dari Demak yang bernama KH Syafawi untuk mengajar ilmu tafsir dan ilmu alat.</p>
<p>Namun sayangnya, keberadaan KH Syafawi di Rejoso Jombang tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1904 KH Syafawi meninggal dunia.</p>
<p>Seiring dengan jumlah santri yang terus bertambah, pada tahun 1930 KH Tamim Irsyad juga meninggal dunia.</p>
<p>Akibatnya KH Cholil harus sendirian mengurus Pondok Pesantren yang didirikan mertuanya tersebut.</p>
<p>Namun tak lama setelah itu, Putra kedua KH Tamim Irsyad yang bernama KH Romli Tamim pulang dari nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng dan Makkah.</p>
<p>KH Romli Tamim kemudian melanjutkan perjuangan ayahnya mengasuh Pesantren di Rejoso dengan tetap dibantu oleh KH Cholil.</p>
<p>Namun Pada tahun 1937, KH Cholil juga meninggal dunia.</p>
<p>Perjuangan KH Cholil kemudian dilanjutkan oleh putranya yang bernama KH Dahlan Cholil.</p>
<p>Di tangan dua kiyai muda itulah, Pesantren yang didirikan KH Tamim Irsyad semakin berkembang pesat.</p>
<p>Keduanya kemudian memberi nama pada pesantren tersebut dengan nama Pondok Pesantren Darul Ulum yang artinya rumah ilmu.</p>
<p>Materi pendidikan di pesantren Darul Ulum kemudian juga dikembangkan, tak hanya mengajarkan ilmu agama saja tapi juga ilmu ilmu umum.</p>
<p><strong>PENGEMBANGAN PENDIDIKAN</strong></p>
<p>Pada tahun 1938 didirikanlah sekolah pertama di Pondok Pesantren Darul Ulum yang diberi nama Madarasah Ibtidaiyah Darul Ulum, lalu pada tahun 1949 didirikan Madarasah Mualimin untuk putra dan tahun 1954 didirikan Madarasah Mualimat untuk putri.</p>
<p>Saat itu, jumlah santri di Darul Ulum sudah mencapai 3000 orang.</p>
<p>Pada tahun 1958 KH Romli Tamim dan KH Dahlan Cholil wafat.</p>
<p>KH Dahlan Cholil wafat pada bulan sya’ban sementara KH Romli Tamim menyusul wafat pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Pasca duet KH Romli Tamim dan KH Dahlan Cholil, pengurusan pesantren Darul ulum kemudian dilanjutkan oleh KH Ma’sum Cholil.</p>
<p>Namun sayangnya hanya berselang 3 tahun kemudian KH Ma’sum Cholil meninggal dunia.</p>
<figure id="attachment_1283" aria-describedby="caption-attachment-1283" style="width: 966px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1283" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/03/Du-Jombang-6.jpeg" alt="" width="966" height="502" /><figcaption id="caption-attachment-1283" class="wp-caption-text">Apel santri Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang (dok pondok Njoso)</figcaption></figure>
<p>Estafet pengurusan Pondok Pesantren Darul Ulum kemudian dilanjutkan oleh KH Bisri CHolil dan KH Mustain Romli.<br />
Pada periode ini, tepatnya tahun 1965, didirikanlah Universitas Darul Ulum sebagai wadah bagi para Santrinya yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.</p>
<p>Setelah KH Bisri Cholil wafat pada tahun 1968, pengurusan dan pengembangan Pondok Pesantren Darul Ulum dilanjutkan oleh KH Mustain Romli bersama KH Asad Umar dan dibantu oleh saudara saudaranya yang lain.</p>
<p>Pada saat itu, KH Asad Umar bahkan membuat terobosan baru dengan mendirikan sekolah sekolah unggulan di dalam Pesantren yang pertama di Indonesia, mulai dari SMP unggulan, SMA dan MA Unggulan.</p>
<p>Di tingkat Perguruan Tinggi, KH Asad Umar juga mendirikan Sekolah Keperawatan, Akademi Kebidanan dan Rumah Sakit.</p>
<p>Sejak itu, nama Pondok Pesantren Darul Ulum semakin berkibar dan dikenal oleh masyarakat sebagai pesantren terkemuka yang unggul dan maju dalam bidang pendidikannya.</p>
<p>Hingga kini, Pondok Pesantren Darul Ulum tercatat memiliki lebih dari 16 sekolah formal, mulai dari SDIT, MIN, MTsN, MTs Plus, MAN, MA Unggulan, SMP I, SMPN 3 Unggulan, SMA DU Unggulan, berbagai SMK, hingga Unipdu.***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-darul-ulum-jombang-sejarah-pondok-njoso/">Sejarah Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang &#8211; Sejarah Pondok Njoso</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-darul-ulum-jombang-sejarah-pondok-njoso/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-mambaul-maarif-denanyar-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-mambaul-maarif-denanyar-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Mar 2024 10:31:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1267</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Jika anda ingin mencari tempat untuk...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-mambaul-maarif-denanyar-jombang/">Sejarah Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Jika anda ingin mencari tempat untuk belajar agama Islam di Jombang, cobalah datang ke Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar.</p>
<p>Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar merupakan salah satu dari beberapa lembaga pendidikan Islam yang tertua di Jombang.</p>
<p>Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar berdiri saat wilayah Jombang dan NKRI masih dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda</p>
<p><strong>LOKASI</strong></p>
<p>Pondok Pesantren Mambaul Maarif berada di Desa Denanyar Kecamatan Jombang.</p>
<p>Dari kota Jombang, Pondok Pesantren Mambaul Maarif terletak di sebelah barat, berjarak sekitar 5,5 kilometer dan dapat dicapai dengan waktu perjalanan sekitar 13 menit.</p>
<p><strong>SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN MAMBAUL MAARIF DENANYAR</strong></p>
<p>Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang didirikan oleh KH Bisri Syansuri, ulama muda yang lahir di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati Jawa tengah pada tanggal 18 September 1886.</p>
<p>Saat belajar di Makkah, KH Bisri Syansuri menikah dengan Nyai Noor Khodijah, Putri dari Kyai Hasbullah atau adik dari KH Wahab Hasbullah, Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang.</p>
<p>Setelah pulang dari Makkah dan sempat tinggal di rumah mertuanya (di Tambak Beras) selama dua tahun, KH Bisri Syansuri kemudian mendirikan Pondok Pesantren di Desa Denanyar yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Tambakberas.</p>
<p>Seperti halnya Tebuireng, dulu Desa Denanyar juga merupakan daerah yang terkenal keras dan masyarakatnya sangat akrab dengan perjudian dan pelacuran.</p>
<p>Namun dengan tekad kuat, KH Bisri Syansuri tetap datang ke Denanyar.</p>
<p>KH Bisri Syansuri mengawali pendirian pesantren pada tahun 1917 dengan membangun sebuah surau kecil.</p>
<p>Jumlah santri pertamanya saat itu hanya 4 orang (putra).</p>
<p>Saat awal didirikan, KH Bisri Syansuri hanya menerima santri laki laki karena pandangan umum masyarakat saat itu masih belum lazim bagi seorang wanita untuk belajar atau mondok di pesantren.</p>
<p>Namun atas izin gurunya, KH Hasyim Asyari, pada tahun 1921 KH Bisri Syansuri kemudian mendirikan Pondok Pesantren Putri Denanyar.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren Denanyar kemudian terus berkembang hingga mampu merubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat di Desa Denanyar yang sebelumnya lekat dengan perjudian dan pelacuran menjadi baik dan Islami.</p>
<p>Gadis gadis di Desa itu juga mulai dibukakan pandangannya sehingga merasa perlu untuk belajar di Pesantren seperti halnya laki-laki.</p>
<p><strong>PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DI PESANTREN</strong></p>
<p>Pada tahun 1924, KH Bisri Syansuri kemudian mendirikan Madarasah Ibidaiyah (setingkat SD) yang awalnya bernama Mamba’ul Huda kemudian diganti menjadi Mamba’ul Maarif.</p>
<p>Sejak saat itu pula Pondok Pesantren Denanyar yang awalnya menggunakan nama Desa diganti dan diberi nama menjadi Pondok Pesantren Mambaul Maarif.</p>
<p>Pada tahun 1926, KH Bisri Syansuri mendirikan Madarasah Tsanawiyah putra, lalu tahun 1928 mendirikan Madarasah Tsanawiyah putri dan tahun 1962 mendirikan Madarasah Aliyah Putra dan Putri.</p>
<p>Pada tanggal 25 April 1980, KH Bisri Syansuri wafat.</p>
<p>Pengurusan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar kemudian dilanjutkan oleh anak dan cucunya hingga sekarang.***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-mambaul-maarif-denanyar-jombang/">Sejarah Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/03/sejarah-pondok-pesantren-mambaul-maarif-denanyar-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inilah Kisah Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng Di Jombang</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/03/inilah-kisah-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/03/inilah-kisah-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2024 08:27:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1261</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Kabupaten Jombang selama ini mendapat julukan...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/inilah-kisah-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/">Inilah Kisah Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng Di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Kabupaten Jombang selama ini mendapat julukan sebagai kota santri.</p>
<p>Hal tersebut tentu dapat dimaklumi karena jumlah Pondok Pesantren di Jombang memang sangat banyak.</p>
<p>Salah satu Pondok Pesantren terkemuka di Jombang adalah Pondok Pesantren Tebuireng.</p>
<p>Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang sangat dikenal oleh masyarakat karena didirikan oleh tokoh yang juga sangat terkenal, yaitu KH Hasyim Asyari.</p>
<p>Nama pendiri Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang itu begitu masyhur karena jasanya yang besar dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan.</p>
<p>Pondok Pesantren Tebuireng terletak di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.</p>
<p>Dari kota Jombang, Pondok Pesantren Tebuireng berada di sebelah selatan dengan jarak 7,3 kilometer dan dapat dicapai dengan waktu perjalanan sekitar 14 menit.</p>
<p><strong>LOKASI AWAL</strong></p>
<p>Pondok Pesantren Tebuireng Jombang didirikan oleh KH Hasyim Asyari pada tahun 1899.</p>
<p>Saat itu, Dusun Tebuireng dikenal sebagai sarang pelacuran, perjudian, pencurian dan perampokan.</p>
<p>KH Hasyim Asyari kemudian memulai dakwah dengan membeli sepetak tanah bekas warung seluas 6 x 8 meter persegi milik seorang dalang.</p>
<p>Di tempat tersebut ada dua buah bangunan dengan ruangan kecil yang terbuat dari anyaman bambu.</p>
<p>Satu ruangan dipergunakan sebagai tempat pengajian dan satu ruangan dipakai untuk tempat tinggal KH Hasyim Asyari bersama istrinya, Khodijah.</p>
<p>Sejak kedatangan KH Hasyim Asyari tersebut, lama kelamaan pola kehidupan masyarakat di Dusun Tebuireng mulai berubah.</p>
<p>Aktifitas masyarakat yang sebelumnya selalu mengarah pada hal yang negatif kemudian berubah menjadi baik.</p>
<p>Sementara Pondok Pesantren Tebuireng juga terus berkembang dan jumlah santrinya bertambah banyak.</p>
<figure id="attachment_1262" aria-describedby="caption-attachment-1262" style="width: 1920px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1262" src="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/03/Tebuireng-Jombang.jpg" alt="" width="1920" height="1080" srcset="https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/03/Tebuireng-Jombang.jpg 1920w, https://joinmedia.id/wp-content/uploads/2024/03/Tebuireng-Jombang-1536x864.jpg 1536w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-1262" class="wp-caption-text">Santri mengaji di teras Masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang</figcaption></figure>
<p><strong>SISTEM PENDIDIKAN</strong></p>
<p>Di awal masa berdirinya, sistem pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng masih dijalankan secara sederhana, dengan menggunakan dua metode, yaitu metode Sorogan dan Bandongan.</p>
<p>Metode sorogan adalah santri belajar membaca kitab kuning di hadapan guru, sementara metode bandongan adalah Kiyai membaca kitab kuning lalu para santri menulis makna pada kitabnya masing-masing.</p>
<p>Pada tahun 1919, KH Hasyim Asyari kemudian merubah sistem pendidikan di Pesantren Tebuireng dengan sistem klasikal.</p>
<p>Lalu pada tahun 1929 kembali dilakukan pembaharuan dengan memasukkan pelajaran umum ke dalam kurikulum pesantren.</p>
<p><strong>DAFTAR NAMA PENGASUH PONDOK PESANTREN TEBUIRENG</strong></p>
<p>Setelah KH Hasyim Asyari Wafat pada tahun 1947, pengurusan Pondok Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh putra dan cucu cucunya.</p>
<p>Berikut adalah daftar nama Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sejak awal berdiri hingga sekarang:<br />
1. KH Hasyim Asyari 1899 – 1947<br />
2. KH Abdul Wahid Hasyim 1947 – 1950<br />
3. KH Abdul Karim Hasyim 1950 – 1951<br />
4. KH Achmad Baidhowi 1951 – 1952<br />
5. KH Abdul Kholiq Hasyim 1952 – 1965<br />
6. KH Muhammad Yusuf Hasyim 1965 – 2006<br />
7. KH Shalahudin Wahid 2006 – 2020<br />
8. KH Abdul Hakim Mahfudz 2020 &#8211; sekarang.***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/inilah-kisah-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/">Inilah Kisah Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng Di Jombang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/03/inilah-kisah-sejarah-berdirinya-pondok-pesantren-tebuireng-di-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ribuan Warga di Jombang Saling Dorong dan Berdesakan Berebut Gunungan 2024 Buah Durian Gratis</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/03/ribuan-warga-di-jombang-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-gunungan-2024-buah-durian-gratis/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/03/ribuan-warga-di-jombang-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-gunungan-2024-buah-durian-gratis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Mar 2024 13:17:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Viral & Unik]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1124</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211;  Tradisi Kenduren Wonosalam kembali digelar...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/ribuan-warga-di-jombang-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-gunungan-2024-buah-durian-gratis/">Ribuan Warga di Jombang Saling Dorong dan Berdesakan Berebut Gunungan 2024 Buah Durian Gratis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; </strong></p>
<p>Tradisi Kenduren Wonosalam kembali digelar warga di Kabupaten Jombang, Minggu (3/3/24).</p>
<p>Sejak pagi, ribuan warga baik dari dalam maupun luar kota Jombang telah memadati lapangan Desa Wonosalam di Kecamatan Wonosalam, tempat digelarnya acara tersebut.</p>
<p>Pj. Bupati Jombang, Sugiat juga hadir bersama seluruh perangkatnya.</p>
<p>Dalam acara tersebut, warga Kecamatan Wonosalam menyediakan ribuan buah durian untuk dibagikan kepada pengunjung secara gratis.</p>
<p>Sebagian buah durian disusun menjadi gunungan raksasa setinggi delapan meter dan diletakkan di tengah lapangan desa.</p>
<p>Lalu sebagian warga Wonosalam yang lain membuat gunungan buah durian berukuran kecil dengan tinggi sekitar dua hingga tiga meter.</p>
<p>Berdasarkan pantauan joinmedia.id total ada sembilan gunungan buah durian yang berukuran kecil.</p>
<p>Gunungan buah durian berukuran kecil itu kemudian diarak oleh warga dari kantor Kecamatan menuju lapangan Wonosalam.</p>
<p>Setelah tiba di lapangan, sembilan gunungan buah durian tersebut kemudian diletakkan mengelilingi gunungan buah durian raksasa.</p>
<p>Usai didoakan, ribuan buah durian tersebut kemudian diserbu dan diperebutkan oleh warga.</p>
<p>Mereka saling dorong dan berdesak-desakan demi mendapatkan buah durian tersebut.</p>
<p>Meski demikian, warga mengaku sangat senang mengikuti tradisi kenduren Wonosalam.</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/ribuan-warga-di-jombang-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-gunungan-2024-buah-durian-gratis/">Ribuan Warga di Jombang Saling Dorong dan Berdesakan Berebut Gunungan 2024 Buah Durian Gratis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/03/ribuan-warga-di-jombang-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-gunungan-2024-buah-durian-gratis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Serunya Tradisi Sedekah Desa Di Mojoagung Jombang, Ratusan Warga Saling Dorong dan Berdesakan Berebut 25 Gunungan Sayur Gratis</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/03/serunya-tradisi-sedekah-desa-di-mojoagung-jombang-ratusan-warga-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-25-gunungan-sayur-gratis/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/03/serunya-tradisi-sedekah-desa-di-mojoagung-jombang-ratusan-warga-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-25-gunungan-sayur-gratis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Mar 2024 11:59:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1117</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Tradisi sedekah desa masih terus dilestarikan...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/serunya-tradisi-sedekah-desa-di-mojoagung-jombang-ratusan-warga-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-25-gunungan-sayur-gratis/">Serunya Tradisi Sedekah Desa Di Mojoagung Jombang, Ratusan Warga Saling Dorong dan Berdesakan Berebut 25 Gunungan Sayur Gratis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Tradisi sedekah desa masih terus dilestarikan oleh warga di Kabupaten Jombang.</p>
<p>Setiap bulan selalu ada saja desa di Jombang yang menggelar acara tahunan tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah di Desa Miagan Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang.</p>
<p>Sabtu siang, mereka saling dorong dan berdesakan berebut gunungan aneka sayur mayur yang dibagikan secara gratis.</p>
<p>Antok Budi Subagyo, Kepala Desa Miagan menjelaskan, total ada 25 gunungan sayur mayur yang dibagikan dalam acara tersebut.</p>
<p>Puluhan gunungan itu sengaja dibuat dan disiapkan oleh warga dari setiap lingkungan secara swadaya.</p>
<p>Gunungan aneka sayur mayur tersebut kemudian diarak keliling menuju lapangan desa Miagan.</p>
<p>Namun sebelum masuk ke dalam lapangan, setiap gunungan yang datang langsung diserbu oleh warga hingga ludes.</p>
<p>Menurut Antok Budi Subagyo, acara seperti ini rutin digelar warga Desa Miagan sebagai bentuk syukur atas hasil panennya yang melimpah.</p>
<p>Dengan menyedekahkan sebagian dari hasil panennya melalui tradisi sedekah desa ini, warga berharap hasil panen mereka di tahun berikutnya akan semakin melimpah.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/03/serunya-tradisi-sedekah-desa-di-mojoagung-jombang-ratusan-warga-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-25-gunungan-sayur-gratis/">Serunya Tradisi Sedekah Desa Di Mojoagung Jombang, Ratusan Warga Saling Dorong dan Berdesakan Berebut 25 Gunungan Sayur Gratis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/03/serunya-tradisi-sedekah-desa-di-mojoagung-jombang-ratusan-warga-saling-dorong-dan-berdesakan-berebut-25-gunungan-sayur-gratis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ribuan Warga di Jombang Saling Berdesakan Berebut Gunungan 2 Ton Buah Manggis Gratis Dalam Tradisi Andum Manggis</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/02/ribuan-warga-di-jombang-saling-berdesakan-berebut-gunungan-2-ton-buah-manggis-gratis-dalam-tradisi-andum-manggis/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/02/ribuan-warga-di-jombang-saling-berdesakan-berebut-gunungan-2-ton-buah-manggis-gratis-dalam-tradisi-andum-manggis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Feb 2024 10:24:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=1025</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Warga di Wonosalam Jombang kembali menggelar tradisi...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/02/ribuan-warga-di-jombang-saling-berdesakan-berebut-gunungan-2-ton-buah-manggis-gratis-dalam-tradisi-andum-manggis/">Ribuan Warga di Jombang Saling Berdesakan Berebut Gunungan 2 Ton Buah Manggis Gratis Dalam Tradisi Andum Manggis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Warga di Wonosalam Jombang kembali menggelar tradisi andum buah manggis, Minggu (25/2/24).</p>
<p>Acara tersebut digelar di lapangan Desa Jarak Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang.</p>
<p>Namun tak hanya dari Jombang saja, ribuan warga dari daerah lain juga berdatangan dan tumpah ruah memadati lokasi acara.</p>
<p>Andum buah manggis merupakan tradisi yang rutin digelar warga di Desa Jarak setiap satu tahun sekali.</p>
<p>Acara tersebut digelar untuk mengangkat potensi Desa jarak sebagai sentra penghasil buah manggis di Kabupaten Jombang.</p>
<p>Tahun ini, warga Desa Jarak menyediakan 2024 kilogram buah manggis untuk dibagikan secara gratis.</p>
<p>Awalnya, delapan gunungan buah manggis berukuran kecil diarak keliling Desa.</p>
<p>Setelah tiba di lapangan Desa Jarak, gunungan tersebutkemudian diletakkan mengelilingi gunungan buah manggis raksasa setinggi delapan meter.</p>
<p>Rencananya, lebih dari dua ton buah manggis tersebut akan dibagikan setelah dibacakan doa oleh tokoh masyarakat setempat.</p>
<p>Namun saat pembacaan doa baru dimulai, ribuan warga langsung merangsek maju berebut mengambil buah manggis dari gunungan kecil.</p>
<p>Tak ayal, delapan gunungan buah manggis berukuran kecil itu langsung ludes dalam waktu sekejap.</p>
<p>Setelah gunungan buah manggis berukuran kecil habis, panitia kemudian membagikan buah manggis dari gunungan raksasa.</p>
<p>Dari atas gunungan, panitia melempar-lemparkan buah manggis ke arah kerumunan warga.</p>
<p>Sementara di sekeliling gunungan, warga berdesakan dan berebut mendapatkan buah manggis yang dilempar-lemparkan tersebut.</p>
<p>Meski harus bersusah payah untuk mendapatkan buah manggis, warga mengaku sangat senang mengikuti tradisi tersebut.</p>
<p>“Alhamdulillah dapat lebih dari lima kilo ini, nanti mau saya bagi-bagikan ke teman-teman”, ujar Fadholi, salah seorang pengunjung asal Nganjuk.</p>
<p>Dengan bersedekah atau membagikan sebagian dari hasil panennya tersebut, warga Desa Jarak berharap hasil panen mereka akan semakin melimpah.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/02/ribuan-warga-di-jombang-saling-berdesakan-berebut-gunungan-2-ton-buah-manggis-gratis-dalam-tradisi-andum-manggis/">Ribuan Warga di Jombang Saling Berdesakan Berebut Gunungan 2 Ton Buah Manggis Gratis Dalam Tradisi Andum Manggis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/02/ribuan-warga-di-jombang-saling-berdesakan-berebut-gunungan-2-ton-buah-manggis-gratis-dalam-tradisi-andum-manggis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Toni Harsono, Pelestari Wayang Potehi Di Jombang Ini Harus Pontang Panting Ke Berbagai Negara Demi Pertahankan Budaya Leluhurnya</title>
		<link>https://joinmedia.id/2024/02/toni-harsono-pelestari-wayang-potehi-di-jombang-ini-harus-pontang-panting-ke-berbagai-negara-demi-pertahankan-budaya-leluhurnya/</link>
					<comments>https://joinmedia.id/2024/02/toni-harsono-pelestari-wayang-potehi-di-jombang-ini-harus-pontang-panting-ke-berbagai-negara-demi-pertahankan-budaya-leluhurnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Join Media]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2024 11:37:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://joinmedia.id/?p=695</guid>

					<description><![CDATA[<p>JOMBANG, JOINMedia.id &#8211; Meski para peminatnya kian minim, para pelestari...</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/02/toni-harsono-pelestari-wayang-potehi-di-jombang-ini-harus-pontang-panting-ke-berbagai-negara-demi-pertahankan-budaya-leluhurnya/">Toni Harsono, Pelestari Wayang Potehi Di Jombang Ini Harus Pontang Panting Ke Berbagai Negara Demi Pertahankan Budaya Leluhurnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOMBANG, JOINMedia.id </strong>&#8211; Meski para peminatnya kian minim, para pelestari wayang potehi di Kabupaten Jombang masih terus berusaha bertahan.</p>
<p>Pelestari wayang potehi di Jombang itu tetap semangat merawat para perajin wayang potehi yang makin langka.</p>
<p>Diantara pelestari wayang potehi di Jombang itu adalah Toni Harsono, warga Pare Kediri yang juga menjadi tokoh di Klenteng Hong San Kiong di Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang.</p>
<p>Bahkan saat ini, Toni Harsono sedang berusaha mendirikan museum khusus wayang potehi di Gudo.</p>
<p>Usaha melestarikan wayang potehi, menurut Toni, tidaklah mudah.</p>
<p>Bertahun-tahun ia harus pontang panting ke berbagai Negara untuk mencari referensi tentang wayang Potehi yang asli.</p>
<p>Upaya itu cukup sulit karena di Negara asalnya, Cina, wayang potehi ternyata juga sudah sangat langka.</p>
<p>Di Indonesia, Toni Harsono juga aktif bergerilya mencari referensi wayang potehi ke berbagai daerah, seperti ke semarang, Surabaya hingga daerah-daerah lainnya.</p>
<p>Dengan referensi yang terbatas tersebut, Toni Harsono kemudian merekrut beberapa pemahat untuk memproduksi wayang potehi sesuai dengan bentuk aslinya.</p>
<p>Toni Harsono juga melatih dan merawat beberapa orang untuk menjadi dalang wayang potehi.</p>
<p>Hebatnya, seluruh usaha tersebut dibiayai dengan dana pribadi oleh Toni Harsono.</p>
<p>Dan hasilnya, ternyata luar biasa.</p>
<p>Tim wayang potehi binaan Toni Harsono kerap mendapatkan undangan untuk mementaskan wayang potehi di berbagai daerah.</p>
<p>Bahkan tak hanya di dalam negeri saja, Tim wayang potehi dari klenteng Hong San Kiong Gudo Jombang itu juga kerap mendapatkan undangan pentas di berbagai negara, seperti Jepang dan Belanda.***</p>
<p>Artikel <a href="https://joinmedia.id/2024/02/toni-harsono-pelestari-wayang-potehi-di-jombang-ini-harus-pontang-panting-ke-berbagai-negara-demi-pertahankan-budaya-leluhurnya/">Toni Harsono, Pelestari Wayang Potehi Di Jombang Ini Harus Pontang Panting Ke Berbagai Negara Demi Pertahankan Budaya Leluhurnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://joinmedia.id">Join Media</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://joinmedia.id/2024/02/toni-harsono-pelestari-wayang-potehi-di-jombang-ini-harus-pontang-panting-ke-berbagai-negara-demi-pertahankan-budaya-leluhurnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
