Ekonomi BisnisHeadline

Berkat Dukungan Modal BRI, Ibu Rumah Tangga di Jombang Ini Sukses Kembangkan Usaha Kerupuk Samiler

×

Berkat Dukungan Modal BRI, Ibu Rumah Tangga di Jombang Ini Sukses Kembangkan Usaha Kerupuk Samiler

Sebarkan artikel ini
Titik menunjukkan krupuk samiler hasil produksinya

JOMBANG, JOINMedia.id – Berawal dari keinginan meneruskan usaha orang tuanya, Titik Martianah (55), warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berhasil mengembangkan usaha kerupuk samiler hingga menjangkau berbagai daerah di Jawa Timur.

Usaha yang dirintis sejak 2011 itu awalnya hanya memproduksi kerupuk samiler dengan bahan baku 10 kilogram singkong per hari. Dengan peralatan sederhana, Titik berusaha mengembangkan usahanya agar semakin dikenal masyarakat.

Kerupuk samiler adalah camilan tradisional berbahan dasar singkong yang diolah melalui proses penggilingan, pencampuran bumbu, pengukusan, hingga penjemuran. Titik memproduksi dua varian, yakni rasa original dan pedas, dengan merek Luliza. Nama tersebut merupakan singkatan dari nama ketiga anaknya.

Keinginan meningkatkan kapasitas produksi membuat Titik memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR ke BRI Unit Kecamatan Diwek pada tahun 2018. Dari pengajuan awal tersebut, Titik memperoleh pinjaman Rp25 juta yang digunakan untuk membeli mesin penggiling singkong dan peralatan produksi.

Hasilnya, kapasitas produksi meningkat dari 10 kilogram menjadi 50 hingga 60 kilogram singkong per hari. Bahkan, pinjaman tersebut berhasil dilunasi hanya dalam waktu satu tahun.

Tapi karena usahanya terus berkembang, pada tahun 2020, Titik kembali mengajukan KUR ke BRI dan mendapatkan pinjaman Rp160 juta. Dana tersebut dipakai untuk membangun gedung produksi di belakang rumahnya.

Dengan fasilitas yang lebih memadai, kapasitas produksi kerupuk samiler Luliza meningkat dari 50 menjadi 200 kilogram singkong per hari, sehingga jumlah pekerjanya pun bertambah menjadi 25 orang.

Kini, produk kerupuk samiler Luliza telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Blitar, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, dan Surabaya. Kerupuk samiler original dijual Rp35 ribu per kilogram, sedangkan varian pedas Rp38 ribu per kilogram.

Titik tunjukkan produk krupuk samilernya

Perjalanan Titik mengembangkan usaha belum berhenti. Setelah pinjaman keduanya lunas, pada 2024 ia kembali mengajukan KUR untuk ketiga kalinya dan memperoleh pinjaman Rp110 juta.

Kali ini, dana tersebut ia butuhkan untuk membeli mobil pikap agar bisa mengambil singkong langsung dari petani. Selama ini, ia mendapatkan bahan baku dari tengkulak dengan harga  Rp3.200 per kilogram. Sementara jika membeli langsung dari petani, harganya bisa sekitar Rp2.500 per kilogram.

“Dengan mobil pikap, saya berharap bisa membeli singkong langsung dari petani sehingga harga bahan baku lebih murah dan biaya produksi bisa ditekan,” ungkap Titik.

Titik mengaku bersyukur karena dukungan permodalan BRI telah membantu usahanya berkembang dari produksi rumahan menjadi usaha yang mampu mempekerjakan puluhan orang.

“Sejak awal usaha, saya hanya pinjam ke BRI karena prosesnya mudah, cepat, pelayanannya baik, dan bunganya juga terjangkau sehingga dan memberatkan. Alhamdulillah, usaha saya bisa terus berkembang dan keuntungan semakin meningkat,” tutur Titik sambil tersenyum senang.

Bagi Titik, kerupuk samiler Luliza sekarang bukan sekadar usaha untuk mendapatkan penghasilan, tapi juga menjadi bisnis yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.***

Penulis: Mukhtar BagusEditor: Sultan Achmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *