JOMBANG, JOINMedia.id – Hari raya iedul fitri 1446 hijriah telah berlangsung dengan meriah.
Jutaan warga telah merayakan lebaran dengan penuh kebahagiaan.
Momen yang istimewa itu tak hanya dirasakan oleh warga yang mudik atau berlebaran saja, tapi juga bagi para pelaku UMKM di Jombang.
Salah satunya adalah Sugeng Riyadi (50), perajin sarung tenun di Desa Plumbon Gambang Kecamatan Gudo.
Sebelum hingga saat hari raya Iedul Fitri, penjualan sarung tenun buatan Sugeng meningkat pesat.
Hal itu terjadi lantaran sarung tenun tradisional tersebut banyak dibutuhkan oleh masyarakat saat lebaran.
Mereka ada yang membeli sarung tenun untuk kebutuhan pribadi dan ada juga yang membeli sarung tenun sebagai souvenir atau oleh-oleh mudik ke kampung halaman.

Sugeng mengaku telah menggeluti usaha produksi sarung tenun sejak tahun 2015 silam.
“Awalnya itu saya dapat tawaran kerjasasama dari teman, saya disuruh produksi, hasilnya dia yang jual”, ujar Sugeng.
Karena modalnya pas-pasan, saat itu Sugeng hanya memproduksi rata-rata 50 hingga 60 lembar sarung perbulan.
Pada tahun 2017, Sugeng ingin mengembangkan usahanya dengan menambah alat tenun dan jumlah karyawannya.
Sebagai modal, Sugeng nekat mengajukan pinjaman ke BRI.
Hasilnya, ia mendapat pinjaman modal pertama dari BRI sebesar 35 juta rupiah.
Uang tersebut dipakai oleh Sugeng membeli alat tenun baru dari yang sebelumnya hanya 3 unit menjadi 10 unit.
Dengan dibantu oleh 10 orang karyawannya, kapasitas produksi Sarung tenun Sugeng meningkat antara 150 hingga 200 lembar sarung per bulan.
Pada tahun 2019, Sugeng mencoba memperbesar usahanya lagi dengan mengajukan pinjaman kedua ke BRI sehingga mendapatkan tambahan modal sebesar 60.000.000 rupiah.
Pinjaman itu kembali dipakai oleh Sugeng untuk membeli peralatan tenun baru sehingga jumlah alatnya kini mencapai 25 unit.

Untuk mencari karyawan, Sugeng tidak mau repot mendidik mereka.
Agar langsung bisa jalan, Sugeng memilih karyawan yang notabene adalah mantan-mantan pekerja dari perusahaan sarung tenun lain yang sudah berpengalaman.
“Saya ngrekrut orang itu jebolan perusahaan sarung tenun semua, jadi saya nggak perlu ngajari lagi”, ujarnya.
Dengan tambahan alat dan karyawan tersebut, produksi sarung Sugeng kembali meningkat menjadi 500 hingga 600 lembar sarung perbulan.
Agar para karyawannya itu bisa bekerja maksimal, Sugeng juga tidak memaksa mereka bekerja di satu tempat, tapi bisa dilakukan di rumah masing-masing.
“Setelah beli alat, alatnya itu saya kirim ke rumah-rumah mereka, ada yang di Jombang, Mojoagung, dan Purwoasri Kediri”, jelas Sugeng.
Menurut Sugeng, cara ini sengaja dipilih agar proses produksi sarung tenun bisa berjalan lebih baik dan maksimal.
“Kalau dikerjakan di rumah itu kan mereka tenang nenunnya, setiap hari mereka tetap bisa kumpul bareng keluarga, njaga anak, dan-lain-lain. Tidak jenuh”, tambahnya.

Berkat pinjaman modal yang diberikan BRI, Sugeng merasa sangat senang karena usahanya kini telah berkembang sangat pesat.
Harga sarung tenun buatan Sugeng bervariasi, mulai dari yang termurah seharga 250 ribu dan yang termahal 550 ribu rupiah.
Pasar Sarung tenun itu tidak hanya di wilayah Jombang saja, tapi juga ke berbagai daerah lain baik di dalam maupun luar negeri.
Untuk mendongkrak penjualannya, Sugeng juga aktif mengikuti pameran-pameran.
Jika pada hari biasa omset yang bisa diraup Sugeng hanya berkisar antara 70 hingga 80 juta rupiah perbulan, di hari lebaran ini omset Sugeng meningkat menjadi lebih dari 125 juta rupiah sebulan.
Sugeng berharap, kedepan BRI tidak hanya mensuport usahanya di bidang permodalan, tapi juga membukakan pasar bagi para perajin agar UMKM di Jombang bisa terus berkembang.